Sebuah kisah klasik

Beberapa cerita murni untuk guyonan atau sekedar melepas kejenuhan. Ada juga diambil dari kisah nyata, pengalaman hidup diri sendiri maupun orang lain, dengan penambahan beberapa imajinasi sebagai fantasi.



Akhir kata, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.



Harapan penulis, semoga pembaca menikmati kisah-kisah yang ada di blog ini.



Selamat membaca...

Rabu, 09 April 2014

Bahwa Aku Mencintainya

Aku memandangmu lewat kaca jendela yang menjadi batas yang memisahkan kita. Deru nafasmu tak bisa kudengar, seperti biasa ketika kau membisikkan kata-kata rayuan di telingaku. Tanganmu tergeletak lemas di sisi ranjang berseprai putih, tangan yang selalu merangkulku untuk menjagaku, melindungiku. Kaki itu, seharusnya kaki itu kini berada di sebelah kakiku, berdiri bersama denganku yang tak letih untuk menemaniku berjalan keliling kota, sekarang hanya terbujur lurus tanpa gerakan. Dan tubuh itu, tubuh yang selalu memberi kehangatan ketika kau memelukku dengan lembut.
Tiga jam yang lalu aku masih melihatmu melambaikan tangan padaku di seberang jalan itu. Kau melempar senyum manisku padaku, selalu menunjukkan wajah berseri kala kita bertemu. Tak sedikitpun kau pernah mengeluh ditelingaku. Malahan aku yang selalu mengeluhkan ini dan itu, menceritakan kisah ini dan itu, tanpa pernah sekalipun kau bosan mendengarnya. Kau tetap duduk di sampingku, mendengarku dengan sabar, kadang memberi nasihat juga. Aku malah terheran-heran, ketika aku mendecak kesal, menaruh kedua tanganku di pinggang, kau malah memandangku, lagi-lagi tersenyum. Aku penasaran apa yang kau pikirkan saat itu?
Aku ingat tiga jam lalu ketika hujan turun dengan derasnya, kau membawa payung, melangkah tanpa ragu untuk menjemputku di halte. Aku hampir saja marah andai saja lima menit lagi kau masih membuatku menunggu. Ah yah, aku ingat bagaimana ketika aku marah karena kau buat menunggu, dengan berbagai caramu yang unik membuat aku tersenyum lagi. Entah itu semangkuk sereal kesukaanku di kamarku pagi hari, layang-layang warna-warni di siang hari, dan lampion terbang di malam hari. Ketika aku hanya diam dan melakukan aksi protes tanpa bicara, entah mengapa kau selalu berhasil membuatku mengeluarkan kata-kata kembali dari mulutku. Mungkin aku terlalu lemah di hadapanmu, atau mungkin kau yang terlalu menguasai diriku sehingga aku seperti terhipnotis atas semua tindakanmu.
Tiga jam yang lalu ketika aku merajuk di telepon genggamku, memohon kau untuk menjemputku di sini. Ketika kau bilang sibuk dengan pekerjaan yang harus kau selesaikan saat itu, tetap saja kau datang kemari, dengan sebuah payung dan berharap aku di sisimu, kan? Aku juga ingat bagaimana kau gelisah ketika teleponmu tidak kujawab, ketika kau begitu panik mencariku, padahal aku tepat di belakangmu, mengikuti, melihat responmu. Ketika aku kau temukan, kau tidak memarahiku, kau menghampirku, memelukku, dan mengatakan rasa bersalah karena tidak bisa menjagaku. Padahal, akulah yang nakal, akulah yang mengujimu, akulah yang telah membuatmu panik, tapi kau terus memegang tanganku seperti tidak mau melepaskannya agar aku tidak hilang lagi.

Aku saat ini di sebelahmu, bisakah kau merasakannya? Bisakah kau ikut menyaksikan setiap putaran memori di kepalaku saat ini? Bisakah aku kembali memegang tanganmu, berjalan bersamamu, memelukmu, menyentuhmu? Bisakah kau ikut tersenyum bersamaku saat ini? Bisakah aku mengulang waktu kembali ke tiga jam yang lalu? Tuhan, bisakah? Aku mohon, hanya tiga jam yang lalu. Aku berjanji tidak akan menjadi anak yang manja, tidak akan terlalu egois, tidak akan mudah ngambek, tidak akan menyusahkan dia lagi, Tuhan, bisakah? Bisakah toleransi kehidupan yang KAU berikan kepada manusia diperpanjang? Sedikit saja, sedikit saja Tuhan, agar aku bisa menyampaikan pesan yang selama ini belum kuucapkan bahwa dari lubuk hatiku yang terdalam, aku mencintainya, mencintai pria yang saat ini hanya terbujur kaku ketika grafik-grafik di monitor berbentuk garis lurus.

Sabtu, 05 April 2014

Mungkin Masing-masing

Mungkin kangen itu cuma sebuah perasaan. Antara kamu dan aku. Kita.
Masing-masing punya satu.
Masing-masing punya rasa.
Masing-masing punya cara.
Bagaimana kita mencinta.
Bagaimana kita mengungkapkan, masing-masing punya sudut pandang.
Mungkin seringkali kamu merasa bingung, bingung dengan sikap aku, sementara aku bingung bagaimana aku harus bersikap menanggapi kebingunganmu itu.
Mungkin kita punya satu rasa yang sama tapi masing-masing mengekspresikannya dengan cara yang berbeda.
Mungkin kita hanya harus berterus terang pada diri kita masing-masing. Maksudnya, aku harus berterus terang pada diriku sendiri sebelum aku meminta orang lain berterus terang pada diriku.

Jumat, 10 Mei 2013

Duduk Manis


Aku cuma perlu duduk manis kan di sana, lihat kamu kerja.
Aku seneng kok kalau kamu disana karena aku percaya kalau kamu di sana, kamu aman, aku juga, kita aman.
Terus sesekali, kamu lempar senyum, aku balas senyum. Kita tersenyum. Kita tersenyum karena kita sama-sama melihat dan kita sama-sama tahu bahwa kita seharusnya baik-baik saja.
Aku bisa menyentuhmu, memelukmu, menciummu. Karena itu yang aku suka.
Kalau kita berjauhan lama, saat ini, kalau aku duduk diam dengan manis dan memandangmu bekerja, aku tahu bahwa aku berada di tempat yang tepat.
Aku bisa melihatmu berkeringat, bajumu basah diguyur keringat. Lihat, lihat! Peluhmu mengalir dari pelipis. Kau menyekanya cepat dengan baju lengan kanan atau kirimu.
Betul, betul, kau terlihat kotor, sedikit dekil, dan berbau. Tapi hal itu menyadarkanku bahwa itu kamu, ada nyata di depanku. Bisa kusentuh, kupeluk, dan kucium.
Kalau waktunya tiba aku untuk pulang, aku tak ingin pulang. Waktu kita bersama, cepat kali berlalu.
Kau harap, aku harap, dan kita sama-sama berharap agar ada hari esok untuk kita bertemu lagi, ada kesempatan secepatnya supaya kita bertatap muka dengan muka.
Karena rindu tidak juga usai dibalas. Kadang kala mata-beradu-mata, ada sejuta arti di sana, tapi satu yang paling menonjol, mengatakan, “Aku cinta kamu.”
Jadi aku selalu menunggu, duduk manis di sini, saat kamu menjemput aku. Karena kita sama-sama memahami bahwa kita saling mencintai.

Sabtu, 23 Maret 2013

Karena Menjaga Diriku adalah Menjaga Dirimu Juga


Kan, gara-gara kamu, aku jadi manja.
Kalau jalan jauh, aku bakalan komentar takut betis gede dan kamu akan membantah kalau jalan itu kan menyehatkan, biarin aja betis gede. Waktu aku akhirnya jalan sendiri, kamu akan negur dan bilang kalau aku dijemput aja. Sekarang, dikit-dikit aku harus dijemput walau harus nunggu lama. Kamu bilang, nanti aku capek kalau jalan, kasihan akunya.
Aku nggak suka panas karena sinar matahari bakal membakar kulit aku jadi coklat dan kamu akan bilang biarin aja kalau kena sinar matahari dan kulitnya berubah gelap, itu kan jadi lebih cantik. Selanjutnya, kamu akan jalan cepet kalau kita nggak pake payung, atau neduh dulu kalau lagi terik dan kamu bilang, kasihan aku kepanasan.
Aku nggak suka hujan, kalau kena hujan kepala aku akan pusing dan sakit, lagipula bajunya akan basah dan aku mudah kena flu. Kamu akan terobos hujan begitu saja, katamu biar cepet sampai tujuan, terus baru beres-beres. Kalau hujan lagi, kamu udah siap sedia payung, kamu bakalan payungin aku dan bilang aku jangan main hujan, nanti sakit.
Dulu, aku nggak nangis dan nggak lapor kalau aku jatuh, kaki berdarah, tangan memar, atau kulit lecet-lecet. Tapi waktu kamu lihat ada luka di diriku, kamu bakalan galau dan negur aku, suruh aku hati-hati. Katamu, aku ini kamu yang jaga, udah dipercayakan. Kalau aku terluka, kamu juga yang bakal terluka. Terus aku berpikir, dengan cara apa supaya kamu nggak sampai harus ikutan terluka? Baiklah, aku akan menjaga diriku baik-baik karena menjaga diriku adalah menjaga dirimu juga.

Sabtu, 16 Maret 2013

Cuma Kamu yang Begitu Menyebalkan


Fasenya seolah terulang lagi, seperti grafik sinus atau cos. Ketika titik jenuh, kita berada di klimaks minimum. Atau seperti roller-coaster. Setiap naik turunnya menggugah emosi, membuat teriak, tapi seru.

Gimana yah aku deskripsiinnya.

Aku cuma bingung ada orang semenyebalkannya kaya kamu.

Kamu sih mau aja aku pukul kalau aku lagi kesel, mau aja digigit kalau giginya ‘gatel’, mau aja denger aku ngoceh-ngoceh. Dan kamu berdiri di sana dan cuma tersenyum. Menyebalkan!

Kamu tuh yang bikin aku marah-marah nggak jelas terus 5 detik kemudian berubah jadi ketawa.

Kamu juga yang bisa buat aku diem selama kita jalan bareng, sepanjang perjalanan, buat aku makin bersalah dan tahu kamu sedang marah sama aku. Apa itu trik kamu? Atau apa? Akhirnya, aku kan yang bakal sms kamu duluan buat minta maaf. Menyebalkan!

Tapi aku mau.

Mau aja diajak makan di tempat itu. Kamu bilang itu tempat kencan kita pertama dan itu waktu kita masih SMA. Aku masih kelas 1 SMA dan masih pakai rok abu-abu panjang itu dan kamu bercelana panjang abu-abu lengkap dengan jaket, helm, dan sarung tangan, serta penutup mulut.

Aku merasa, kencan kita pertama itu bukan yang di dekat terminal, tapi malam minggu di dekat pantai itu, pas kamu makan ramen dan ngotot aku harus makan, padahal aku udah kenyang banget. Jadilah aku makan es krim mochi, dan kamu puas.

Setiap jalan, kamu perhatiin makan aku. Apa itu program penggendutan diri?
Tapi beberapa hari ini, kamu menyebalkannya keterlaluan. Aku disuruh nunggu lama-lama tanpa info dari kamu seakan aku di pedalaman dan kamu sedang melalang-buana di negri antah berantah. Menyebalkan! 

Dan kamu selalu begitu, menyebalkan!

Kamu bisa aja buat aku kesel, terus kita akan diem-dieman, terus aku jadi sedih, nangis, dan kamu yang aku salahin. Aku jadi males makan, susah tidur, nggak konsen belajar, dan itu karena sikap kamu yang nyebelin itu!

Hah!

Tapi bagaimanapun juga, aku tetap kangen kamu. Kamu sih begitu menyebalkannya. Selalu maksa, selalu ada aja alasan, selalu buat aku nunggu selama berjam-jam. Giliran kamu yang nunggu, aku dimarahin. Kamu memang menyebalkan tingkat kronis dan entah bagaimana aku sedikit suka. Aku gila!

Kamu juga yang mau turunin aku dari motor malem-malem di tengah jalan. Pas aku beneran mau turun, kamu malah nggak tega. Kamu tuh emang nyebelin parah! Dan kamu bisa aja balesnya pas aku bilang kamu nyebelin, kamu pasti bakalan bilang aku suka hal itu.

Yah sudahlah, setidaknya saat ini aku harus terima, itu kamu, dan cuma kamu yang begitu menyebalkan.

Selasa, 25 Desember 2012

Sembilan Lainnya


Ini baru pertama kalinya aku berada di pesta ini setelah tahun-tahun sebelumnya selalu kutolak. Harus aku akui, memang alasannya karena pesta ini adalah pesta natal. Aku tak suka natal. Pesta ini hanyalah ajang untuk saling pamer dalam segala kemewahan yang ada. Seolah setiap orang berlomba membeli barang-barang bagus dan mahal dan mendorong orang-orang semacam ini menjadi konsumen yang akut.
Natal itu...ah, ketika lonceng-lonceng gereja berbunyi menandakan malam natal dan setiap orang pergi ke gereja untuk merayakannya sambil menyanyikan lagu ‘Malam Kudus’ itu, aku hanya sedikit berpikir dalam otakku. Benarkah malam itu malam yang kudus? Ketika di lorong jalan yang sempit dan gelap seorang perempuan diperkosa oleh tiga pria tak dikenal kemudian merampas uangnya, ketika beratus-ratus penderita busung lapar tetap kelaparan di Afrika sana, atau ketika para tunasusila tetap gencar melakukan aksinya, ketika tempat perjudian tetap digelar, pesta seks dan narkoba diadakan, masih bisakah malam itu disebut malam yang kudus? Sunyi senyapkah ketika setiap hati berteriak dan setiap mulut mengaduh sakit?
Dan disinilah aku bersama perempuan itu. Karena perempuan itulah aku hadir di sini. Ah...aku rasa ini keputusan yang salah. Jadi aku mengambil tempat duduk di salah satu pojok ruangan yang jauh dari pengeras suara yang berdentum memekakkan telinga. Aku melihat perempuan itu dengan setelah dress selututnya berwarna hijau tua dari beludru. Sederhana, dengan model yang tidak terlalu terbuka. Sepasang sarung tangan hitam dari beludru menutupi kedua telapak tangannya itu, clutch kecil berwarna hijau tua senada dengan bajunya dan sepasang pantofel hitam mengkilap di kakinya. Selebihnya, hanya sepasang anting yang telah dipakainya bertahun-tahun dan sebuah cincin emas melingkar di jari manisnya tanda kesetiaannya terhadap pernikahannya.
Sekelompok perempuan lain menghampirinya lalu terjadilah obrolan yang sempat kudengar itu.
“Halo Anne, jadi ke mana liburan kali ini?” tanya sesosok perempuan yang aku tahu namanya adalah Elly yang mengenakan gaun berkerah berwarna merah menyolok yang persis sama seperti Jessica Avantie, model yang sekarang memiliki honor tertinggi.
“Hanya mengikuti sebuah tour ke Perancis lalu berkeliling Itali,” sahutnya bangga, jelas sekali dari nada bicaranya. Anne memakai gaun malam yang bagus berwarna hitam legam dengan tali spageti anggun yang melingkar manis di pundaknya. Tak usah kau sebutkan pun aku tahu itu karya Johansen Jonas, perancang TOP di Milan itu.
“Wah, apa kau bisa bahasa Perancis atau Itali?” tanya Mischa, perempuan lainnya yang memegang sampagne di tangannya. Dia ini yang paling menyolok diantara ketiga perempuan yang lain. Seuntai kalung mutiara melingkar di leher jenjangnya, sebuah gelang emas murni bertengger mewah di pergelangan tangan kirinya dengan ukiran seniman ternama, dan sebuah cincin berlian berkarat tinggi tersemat manis di jarinya, tak lupa sejuntai anting dari batu safir merah yang sangat mahal itu, ikut menghias telinganya. Tampaknya ia sedang memamerkan seluruh kekayaannya. Tapi menurut pandanganku seolah dirinya ingin berkata, “Ayo perampok, rampok aku!” lalu aku tertawa kecil dengan imajinasiku itu.
“Tenang, tour ini akan siap membantu sehingga kami tidak akan mengalami kesulitan apa-apa.”
“Berapa harganya?” tanya perempuan dress hijau tua itu, Margaret.
“Dua ribu dolar untuk anak dibawah 17 tahun dan tiga ribu dolar untuk orang dewasa. Tujuh hari perjalanan untuk harga yang demikian murahnya,” lalu Anne tertawa kecil menunjukkan diri bahwa uang sejumlah demikian terlalu sedikit untuk dirinya.
“Oh yah Meg, ini ada oleh-oleh buatmu.” Mischa mengeluarkan sebuah gantungan perak dari dalam tas tangannya yang berwarna emas, senada dengan gaun coklat mudanya itu.
Lambang bendera USA menghiasi bagian depannya. “Wah, kau dari Amerika?” tanya Elly antusias. Mischa hanya mengangguk. Kedua perempuan yang lain tidak mendapatkan oleh-oleh dari Amerika itu. Aku tahu apa maksudnya, mereka menganggap hadiah yang diberikan itu tak seberapa dan cukuplah untuk ukuran Meg, panggilan untuk Margaret.
“Terimakasih Mis,” jawab Meg cukup sopan sambil memasukkannya ke dalam clutch nya itu.
“Kau ke mana Elly? Aku belum mendengar ceritamu,” seru Anne tak sabaran.
Well, maaf sebelumnya karena tak bawa oleh-oleh untuk kalian. Aku terlalu sibuk mencari sunblock karena kehabisan persediaan. Ternyata liburan ke Hawaii-ku diperpanjang diam-diam oleh suamiku sebagai kejutan. Betapa senangnya aku, meski itu tadi, aku jadi harus membeli beberapa botol sunblock lagi. Berjemur di Hawaii tentu mengasyikkan!” Tidak penting! Celutukku dalam hati.
“Dan kau Meg, ke mana kau akan berlibur?” Anne kemudian beralih pada Meg.
Meg berdehem sekali untuk membersihkan tenggorokannya. “Aku sepertinya akan tetap di sini bersama keluargaku.”
“Dan mengurus pantimu itu?” sahut Mischa lalu diiringi tawa dari dua temannya. Meg hanya tersenyum. Sudah kuingatkan padamu Meg, kau tak juga mau mendengarkan. Pesta ini tak perlu didatangi, lakukan saja seperti tahun-tahun sebelumnya, menolak. Hanya embel-embel ‘natal’ saja yang menjadikannya terlihat tampak sederhana, namun ini hanyalah ajang pamer kekayaan yang tak perlu itu.
“Aku akan ke sana dulu untuk mengambil air.” Meg berlalu menuju meja gelas-gelas cantik tertata untuk mengambil segelas air dan meneguknya perlahan. Aku hanya duduk di sini dan memperhatikan saja. Aku malas berbaur. Biar saja orang-orang itu lewat, menatap ke arahku, saling melempar senyum sopan lalu segera berlalu. Begitu lebih baik.
Meg dan aku diundang ke sini karena kami dikenal dari panti asuhan yang kami kelola. Sebenarnya, tidak layak menyebutnya panti, aku lebih suka mengatakan ‘Rumah Kebersamaan”. Anak-anak itu perlu kasih sayang. Membagikan sedikit hal yang dinamakan kasih, yah memang baru sedikit dari berjuta-juta hal besar lainnya yang mereka butuhkan. Tapi kasih itu mendasarkan semuanya.
Dan kumpulan ini sebenarnya adalah komunitas gereja di kota ini, ketua majelis yang menjadi tuan rumah inilah yang mengundang kami. Aku rasa Meg sudah menyadari bahwa keputusannya menghadiri acara ini adalah salah.
Ketika acara sudah usai dengan terasa sangat sia-sia bagiku, akhirnya tibalah giliran pulang. Satu persatu mobil yang tadinya diparkir rapi di halaman rumah yang lapang ini menjemput di depan ball dan satu persatu menunggu gilirannya. Kami mendapat giliran hampir akhir. Hanya tersisa beberapa saja. Tentu saja, Anne, Mischa, dan Elly menunggu Meg pulang dulu. Rupanya mereka belum puas untuk mencibir kembali mengenai kesederhanaan Meg itu.
Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat dihadapan kami. Betapa pemandangan di depan mereka membuat Anne, Mischa, dan Elly serta beberapa orang yang masih tersisa di sana tercengang. Obrolan mereka seketika berhenti melihat mobil sedan itu.
Meg telah menuju pintu di ujung sebelah sana dan masuk setelah dibukakan pintu oleh supir kami, Pedro.
“Ada apa?” tanyaku sebelum Pedro membukakan pintu untukku.
“Mobil kalian ini kan bahkan belum dipakai oleh siapapun di dunia ini. Bukankah baru akan rilis beberapa bulan lagi?!” seru Anne, agak berlebihan bagiku.
Aku menyadari, mobil sedan hitam ini telah diiklankan dengan sangat bombastis sebelum diluncurkan dipasaran. Semuanya yang melihat iklan ini tahu bahwa mobil ini baru akan ada beberapa bulan kemudian. Semuanya aku yakin, ingin berlomba memilikinya. Hanya akan ada sepuluh mobil seperti ini di seluruh dunia. Siapa yang memilikinya pastilah akan menambah gengsi mereka karena harganya yang fantastis itu akan menjadikan diri mereka berlabel ‘Orang yang sangat kaya’.
Aku tersenyum kecil. “Ini pemberian.”
“Sudah kuduga,” celutuk Mischa cepat. Terlalu cepat hingga membuat aku sedikit kesal. Rasanya tanganku gatal ingin mendaratkannya ke pipi mulusnya sekali saja, agar bibirnya terkunci rapat.
“Dari siapa?” tanya Elly penasaran. Beberapa pasang mata memperhatikan dengan antusias. Pedro telah membukakan pintunya bagiku.
“Dari pemiliknya perusahaan langsung,” jawabku sambil masuk ke dalam mobil dan duduk di dalamnya.
“Bagaimana kau bisa kenal dengannya?” Mischa bertanya lagi.
Sebelum pintu ditutup oleh Pedro aku sempat menyahut, “Tentu aku kenal. Dia ayahku.” Pintu tertutup dan mobil itu berjalan mulus, semulus aku berhasil mengunci rapat bibir Mischa yang menyebalkan itu.
Aku masih bisa melihat raut wajah antara takjub dan tidak percaya, antara kesal dan malu atas sikap mereka tadi. Hah! Natal, natal. Pembodohan besar bagi orang-orang naif seperti mereka yang mengukur segalanya dari materi yang dimiliki.
Setidaknya Meg benar, kita akan tetap di sini. Ayah akan pulang besok setelah negosiasi terakhirnya hari ini. Mobil kesembilan yang dijualnya. Dan kami, kami bahkan sudah duduk manis dan menikmati keliling kota dengan mobil idaman orang-orang di luar sana yang baru akan mendapatkannya beberapa bulan kemudian setelah kami puas menikmati kemewahan mobil ini ketika sembilan mobil lainnya baru diluncurkan dan kemudian kami akan mendesain yang baru untuk dijual kembali.

Rabu, 12 Desember 2012

Ayah Patricia

Aku pernah mengenal seseorang, samar-samar dalam ingatanku. Kalau tidak salah saat aku masih duduk di bangku SD. Aku mengenalnya di tempat kursus bahasa Inggris. Dulu, masalah kasus korupsi tidak se-Booming seperti saat ini, belum mendapat tempat menjadi lahapan media massa yang haus akan berita dan berusaha mencari sensasi belaka.
Anak itu berjenis kelamin perempuan, periang dan rajin. Cekatan, cantik, dan tidak sombong. Aku tahu dia anak seorang yang cukup berada dan berkaitan dengan kenegaraan, yang saat ini aku tahu mungkin ayahnya adalah salah satu anggota pejabat kelas menengah.
Dulu, belum ada kasus seperti Bank Century atau Hambalang di mana para pelakunya dengan bangga memamerkan gigi-geligi mereka yang menggelikan itu di depan layar kaca. Bahkan mungkin wajah ayah perempuan itu tak terpampang di halaman utama koran. Aku tak tahu, aku tak kenal dan sampai saat ini belum pernah melihat wajah ayahnya. Bahkan wajah temanku itu saja aku sudah lupa.
Jadi, ketika itu, kelas belum mulai. Karena aku diantar jemput oleh layanan jasa seperti itu, aku datang lebih awal dari teman-temanku yang naik kendaraan pribadi. Karena kelasnya masih terisi murid-murid lain yang memakai kelas yang sama, aku menunggu sambil duduk di sofa yang empuk di ruang tunggu. Ada dia, ya ampun, bahkan namanya aku lupa, mungkin Patricia, atau Ellise, atau Alice, aku lupa.
Dia duduk sendiri dan wajahnya murung saat itu. Jadi aku menghampirinya dan berusaha mengajak mengobrol.
“Halo Pat,” akhirnya kita sebut saja namanya Patricia, aku benar-benar lupa.
“Hai,” jawabnya singkat tanpa memandang wajahku. Kakinya digores-goresnya ke lantai yang tampak mengkilap karena dibersihkan dengan telaten oleh petugas kebersihan yang ramah, aku sering menyapanya.
“Kenapa murung?”
Patricia menggeleng. “Papa mau ditangkap polisi.”
“Kenapa?” aku merasa sangat polos sebagai anak SD. Yang aku tahu, ditangkap polisi itu berarti karena kita sudah berbuat nakal, itu yang mama bilang kalau aku berbuat nakal, nanti ditangkap polisi. “Papa Patricia nakal yah?”
“Bukan. Katanya, papa sudah korupsi.”
“Korupsi itu apa?” aku benar-benar anak kecil yang polos.
“Korupsi itu ambil uang milik orang lain, kaya mencuri gitu,” jelasnya mulai mengangkat wajahnya.
“Jadi papa Patricia mencuri?”
“Bukan mencuri, tapi korupsi,” sanggahnya agak kesal.
“Oh, bukan mencuri, tapi korupsi.” Aku mengangguk tanda mengerti walau sebenarnya aku masih bingung.
Saat pelajaran hari itu, Patricia tampak diam, tidak seperti biasanya. Miss yang mengajar kami juga sampai heran. Tapi hari itu berlalu begitu saja.
Pertemuan berikutnya saat dua hari kemudian, Patricia tidak datang. Begitu juga minggu-minggu berikutnya. Patricia tidak pernah hadir lagi.
Saat membayar uang les di kantor administrasi (anak-anak les membayar uang les mereka sendiri dengan bahasa inggris, ini tempat kursus resmi) aku sekaligus bertanya pada petugasnya, tentu saja dengan bahasa inggris yang tidak lancar. “Miss, Patricia doesn’t come again, why?”
Petugas itu menatapku lalu tersenyum, “She is not here again because she stop studying English in here.”
Aku menangkap maksudnya bahwa Patricia berhenti les. Saat itu aku menganggapnya biasa. Aku baru mengerti saat aku duduk di bangku SMA. Ada nama yang pernah aku dengar, kali ini kasus yang serupa yang Patricia pernah ceritakan padaku, kasus korupsi. Mungkinkah itu adalah ayah Patricia?