Sebuah kisah klasik

Beberapa cerita murni untuk guyonan atau sekedar melepas kejenuhan. Ada juga diambil dari kisah nyata, pengalaman hidup diri sendiri maupun orang lain, dengan penambahan beberapa imajinasi sebagai fantasi.



Akhir kata, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.



Harapan penulis, semoga pembaca menikmati kisah-kisah yang ada di blog ini.



Selamat membaca...

Sabtu, 23 Maret 2013

Karena Menjaga Diriku adalah Menjaga Dirimu Juga


Kan, gara-gara kamu, aku jadi manja.
Kalau jalan jauh, aku bakalan komentar takut betis gede dan kamu akan membantah kalau jalan itu kan menyehatkan, biarin aja betis gede. Waktu aku akhirnya jalan sendiri, kamu akan negur dan bilang kalau aku dijemput aja. Sekarang, dikit-dikit aku harus dijemput walau harus nunggu lama. Kamu bilang, nanti aku capek kalau jalan, kasihan akunya.
Aku nggak suka panas karena sinar matahari bakal membakar kulit aku jadi coklat dan kamu akan bilang biarin aja kalau kena sinar matahari dan kulitnya berubah gelap, itu kan jadi lebih cantik. Selanjutnya, kamu akan jalan cepet kalau kita nggak pake payung, atau neduh dulu kalau lagi terik dan kamu bilang, kasihan aku kepanasan.
Aku nggak suka hujan, kalau kena hujan kepala aku akan pusing dan sakit, lagipula bajunya akan basah dan aku mudah kena flu. Kamu akan terobos hujan begitu saja, katamu biar cepet sampai tujuan, terus baru beres-beres. Kalau hujan lagi, kamu udah siap sedia payung, kamu bakalan payungin aku dan bilang aku jangan main hujan, nanti sakit.
Dulu, aku nggak nangis dan nggak lapor kalau aku jatuh, kaki berdarah, tangan memar, atau kulit lecet-lecet. Tapi waktu kamu lihat ada luka di diriku, kamu bakalan galau dan negur aku, suruh aku hati-hati. Katamu, aku ini kamu yang jaga, udah dipercayakan. Kalau aku terluka, kamu juga yang bakal terluka. Terus aku berpikir, dengan cara apa supaya kamu nggak sampai harus ikutan terluka? Baiklah, aku akan menjaga diriku baik-baik karena menjaga diriku adalah menjaga dirimu juga.

Sabtu, 16 Maret 2013

Cuma Kamu yang Begitu Menyebalkan


Fasenya seolah terulang lagi, seperti grafik sinus atau cos. Ketika titik jenuh, kita berada di klimaks minimum. Atau seperti roller-coaster. Setiap naik turunnya menggugah emosi, membuat teriak, tapi seru.

Gimana yah aku deskripsiinnya.

Aku cuma bingung ada orang semenyebalkannya kaya kamu.

Kamu sih mau aja aku pukul kalau aku lagi kesel, mau aja digigit kalau giginya ‘gatel’, mau aja denger aku ngoceh-ngoceh. Dan kamu berdiri di sana dan cuma tersenyum. Menyebalkan!

Kamu tuh yang bikin aku marah-marah nggak jelas terus 5 detik kemudian berubah jadi ketawa.

Kamu juga yang bisa buat aku diem selama kita jalan bareng, sepanjang perjalanan, buat aku makin bersalah dan tahu kamu sedang marah sama aku. Apa itu trik kamu? Atau apa? Akhirnya, aku kan yang bakal sms kamu duluan buat minta maaf. Menyebalkan!

Tapi aku mau.

Mau aja diajak makan di tempat itu. Kamu bilang itu tempat kencan kita pertama dan itu waktu kita masih SMA. Aku masih kelas 1 SMA dan masih pakai rok abu-abu panjang itu dan kamu bercelana panjang abu-abu lengkap dengan jaket, helm, dan sarung tangan, serta penutup mulut.

Aku merasa, kencan kita pertama itu bukan yang di dekat terminal, tapi malam minggu di dekat pantai itu, pas kamu makan ramen dan ngotot aku harus makan, padahal aku udah kenyang banget. Jadilah aku makan es krim mochi, dan kamu puas.

Setiap jalan, kamu perhatiin makan aku. Apa itu program penggendutan diri?
Tapi beberapa hari ini, kamu menyebalkannya keterlaluan. Aku disuruh nunggu lama-lama tanpa info dari kamu seakan aku di pedalaman dan kamu sedang melalang-buana di negri antah berantah. Menyebalkan! 

Dan kamu selalu begitu, menyebalkan!

Kamu bisa aja buat aku kesel, terus kita akan diem-dieman, terus aku jadi sedih, nangis, dan kamu yang aku salahin. Aku jadi males makan, susah tidur, nggak konsen belajar, dan itu karena sikap kamu yang nyebelin itu!

Hah!

Tapi bagaimanapun juga, aku tetap kangen kamu. Kamu sih begitu menyebalkannya. Selalu maksa, selalu ada aja alasan, selalu buat aku nunggu selama berjam-jam. Giliran kamu yang nunggu, aku dimarahin. Kamu memang menyebalkan tingkat kronis dan entah bagaimana aku sedikit suka. Aku gila!

Kamu juga yang mau turunin aku dari motor malem-malem di tengah jalan. Pas aku beneran mau turun, kamu malah nggak tega. Kamu tuh emang nyebelin parah! Dan kamu bisa aja balesnya pas aku bilang kamu nyebelin, kamu pasti bakalan bilang aku suka hal itu.

Yah sudahlah, setidaknya saat ini aku harus terima, itu kamu, dan cuma kamu yang begitu menyebalkan.

Selasa, 25 Desember 2012

Sembilan Lainnya


Ini baru pertama kalinya aku berada di pesta ini setelah tahun-tahun sebelumnya selalu kutolak. Harus aku akui, memang alasannya karena pesta ini adalah pesta natal. Aku tak suka natal. Pesta ini hanyalah ajang untuk saling pamer dalam segala kemewahan yang ada. Seolah setiap orang berlomba membeli barang-barang bagus dan mahal dan mendorong orang-orang semacam ini menjadi konsumen yang akut.
Natal itu...ah, ketika lonceng-lonceng gereja berbunyi menandakan malam natal dan setiap orang pergi ke gereja untuk merayakannya sambil menyanyikan lagu ‘Malam Kudus’ itu, aku hanya sedikit berpikir dalam otakku. Benarkah malam itu malam yang kudus? Ketika di lorong jalan yang sempit dan gelap seorang perempuan diperkosa oleh tiga pria tak dikenal kemudian merampas uangnya, ketika beratus-ratus penderita busung lapar tetap kelaparan di Afrika sana, atau ketika para tunasusila tetap gencar melakukan aksinya, ketika tempat perjudian tetap digelar, pesta seks dan narkoba diadakan, masih bisakah malam itu disebut malam yang kudus? Sunyi senyapkah ketika setiap hati berteriak dan setiap mulut mengaduh sakit?
Dan disinilah aku bersama perempuan itu. Karena perempuan itulah aku hadir di sini. Ah...aku rasa ini keputusan yang salah. Jadi aku mengambil tempat duduk di salah satu pojok ruangan yang jauh dari pengeras suara yang berdentum memekakkan telinga. Aku melihat perempuan itu dengan setelah dress selututnya berwarna hijau tua dari beludru. Sederhana, dengan model yang tidak terlalu terbuka. Sepasang sarung tangan hitam dari beludru menutupi kedua telapak tangannya itu, clutch kecil berwarna hijau tua senada dengan bajunya dan sepasang pantofel hitam mengkilap di kakinya. Selebihnya, hanya sepasang anting yang telah dipakainya bertahun-tahun dan sebuah cincin emas melingkar di jari manisnya tanda kesetiaannya terhadap pernikahannya.
Sekelompok perempuan lain menghampirinya lalu terjadilah obrolan yang sempat kudengar itu.
“Halo Anne, jadi ke mana liburan kali ini?” tanya sesosok perempuan yang aku tahu namanya adalah Elly yang mengenakan gaun berkerah berwarna merah menyolok yang persis sama seperti Jessica Avantie, model yang sekarang memiliki honor tertinggi.
“Hanya mengikuti sebuah tour ke Perancis lalu berkeliling Itali,” sahutnya bangga, jelas sekali dari nada bicaranya. Anne memakai gaun malam yang bagus berwarna hitam legam dengan tali spageti anggun yang melingkar manis di pundaknya. Tak usah kau sebutkan pun aku tahu itu karya Johansen Jonas, perancang TOP di Milan itu.
“Wah, apa kau bisa bahasa Perancis atau Itali?” tanya Mischa, perempuan lainnya yang memegang sampagne di tangannya. Dia ini yang paling menyolok diantara ketiga perempuan yang lain. Seuntai kalung mutiara melingkar di leher jenjangnya, sebuah gelang emas murni bertengger mewah di pergelangan tangan kirinya dengan ukiran seniman ternama, dan sebuah cincin berlian berkarat tinggi tersemat manis di jarinya, tak lupa sejuntai anting dari batu safir merah yang sangat mahal itu, ikut menghias telinganya. Tampaknya ia sedang memamerkan seluruh kekayaannya. Tapi menurut pandanganku seolah dirinya ingin berkata, “Ayo perampok, rampok aku!” lalu aku tertawa kecil dengan imajinasiku itu.
“Tenang, tour ini akan siap membantu sehingga kami tidak akan mengalami kesulitan apa-apa.”
“Berapa harganya?” tanya perempuan dress hijau tua itu, Margaret.
“Dua ribu dolar untuk anak dibawah 17 tahun dan tiga ribu dolar untuk orang dewasa. Tujuh hari perjalanan untuk harga yang demikian murahnya,” lalu Anne tertawa kecil menunjukkan diri bahwa uang sejumlah demikian terlalu sedikit untuk dirinya.
“Oh yah Meg, ini ada oleh-oleh buatmu.” Mischa mengeluarkan sebuah gantungan perak dari dalam tas tangannya yang berwarna emas, senada dengan gaun coklat mudanya itu.
Lambang bendera USA menghiasi bagian depannya. “Wah, kau dari Amerika?” tanya Elly antusias. Mischa hanya mengangguk. Kedua perempuan yang lain tidak mendapatkan oleh-oleh dari Amerika itu. Aku tahu apa maksudnya, mereka menganggap hadiah yang diberikan itu tak seberapa dan cukuplah untuk ukuran Meg, panggilan untuk Margaret.
“Terimakasih Mis,” jawab Meg cukup sopan sambil memasukkannya ke dalam clutch nya itu.
“Kau ke mana Elly? Aku belum mendengar ceritamu,” seru Anne tak sabaran.
Well, maaf sebelumnya karena tak bawa oleh-oleh untuk kalian. Aku terlalu sibuk mencari sunblock karena kehabisan persediaan. Ternyata liburan ke Hawaii-ku diperpanjang diam-diam oleh suamiku sebagai kejutan. Betapa senangnya aku, meski itu tadi, aku jadi harus membeli beberapa botol sunblock lagi. Berjemur di Hawaii tentu mengasyikkan!” Tidak penting! Celutukku dalam hati.
“Dan kau Meg, ke mana kau akan berlibur?” Anne kemudian beralih pada Meg.
Meg berdehem sekali untuk membersihkan tenggorokannya. “Aku sepertinya akan tetap di sini bersama keluargaku.”
“Dan mengurus pantimu itu?” sahut Mischa lalu diiringi tawa dari dua temannya. Meg hanya tersenyum. Sudah kuingatkan padamu Meg, kau tak juga mau mendengarkan. Pesta ini tak perlu didatangi, lakukan saja seperti tahun-tahun sebelumnya, menolak. Hanya embel-embel ‘natal’ saja yang menjadikannya terlihat tampak sederhana, namun ini hanyalah ajang pamer kekayaan yang tak perlu itu.
“Aku akan ke sana dulu untuk mengambil air.” Meg berlalu menuju meja gelas-gelas cantik tertata untuk mengambil segelas air dan meneguknya perlahan. Aku hanya duduk di sini dan memperhatikan saja. Aku malas berbaur. Biar saja orang-orang itu lewat, menatap ke arahku, saling melempar senyum sopan lalu segera berlalu. Begitu lebih baik.
Meg dan aku diundang ke sini karena kami dikenal dari panti asuhan yang kami kelola. Sebenarnya, tidak layak menyebutnya panti, aku lebih suka mengatakan ‘Rumah Kebersamaan”. Anak-anak itu perlu kasih sayang. Membagikan sedikit hal yang dinamakan kasih, yah memang baru sedikit dari berjuta-juta hal besar lainnya yang mereka butuhkan. Tapi kasih itu mendasarkan semuanya.
Dan kumpulan ini sebenarnya adalah komunitas gereja di kota ini, ketua majelis yang menjadi tuan rumah inilah yang mengundang kami. Aku rasa Meg sudah menyadari bahwa keputusannya menghadiri acara ini adalah salah.
Ketika acara sudah usai dengan terasa sangat sia-sia bagiku, akhirnya tibalah giliran pulang. Satu persatu mobil yang tadinya diparkir rapi di halaman rumah yang lapang ini menjemput di depan ball dan satu persatu menunggu gilirannya. Kami mendapat giliran hampir akhir. Hanya tersisa beberapa saja. Tentu saja, Anne, Mischa, dan Elly menunggu Meg pulang dulu. Rupanya mereka belum puas untuk mencibir kembali mengenai kesederhanaan Meg itu.
Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat dihadapan kami. Betapa pemandangan di depan mereka membuat Anne, Mischa, dan Elly serta beberapa orang yang masih tersisa di sana tercengang. Obrolan mereka seketika berhenti melihat mobil sedan itu.
Meg telah menuju pintu di ujung sebelah sana dan masuk setelah dibukakan pintu oleh supir kami, Pedro.
“Ada apa?” tanyaku sebelum Pedro membukakan pintu untukku.
“Mobil kalian ini kan bahkan belum dipakai oleh siapapun di dunia ini. Bukankah baru akan rilis beberapa bulan lagi?!” seru Anne, agak berlebihan bagiku.
Aku menyadari, mobil sedan hitam ini telah diiklankan dengan sangat bombastis sebelum diluncurkan dipasaran. Semuanya yang melihat iklan ini tahu bahwa mobil ini baru akan ada beberapa bulan kemudian. Semuanya aku yakin, ingin berlomba memilikinya. Hanya akan ada sepuluh mobil seperti ini di seluruh dunia. Siapa yang memilikinya pastilah akan menambah gengsi mereka karena harganya yang fantastis itu akan menjadikan diri mereka berlabel ‘Orang yang sangat kaya’.
Aku tersenyum kecil. “Ini pemberian.”
“Sudah kuduga,” celutuk Mischa cepat. Terlalu cepat hingga membuat aku sedikit kesal. Rasanya tanganku gatal ingin mendaratkannya ke pipi mulusnya sekali saja, agar bibirnya terkunci rapat.
“Dari siapa?” tanya Elly penasaran. Beberapa pasang mata memperhatikan dengan antusias. Pedro telah membukakan pintunya bagiku.
“Dari pemiliknya perusahaan langsung,” jawabku sambil masuk ke dalam mobil dan duduk di dalamnya.
“Bagaimana kau bisa kenal dengannya?” Mischa bertanya lagi.
Sebelum pintu ditutup oleh Pedro aku sempat menyahut, “Tentu aku kenal. Dia ayahku.” Pintu tertutup dan mobil itu berjalan mulus, semulus aku berhasil mengunci rapat bibir Mischa yang menyebalkan itu.
Aku masih bisa melihat raut wajah antara takjub dan tidak percaya, antara kesal dan malu atas sikap mereka tadi. Hah! Natal, natal. Pembodohan besar bagi orang-orang naif seperti mereka yang mengukur segalanya dari materi yang dimiliki.
Setidaknya Meg benar, kita akan tetap di sini. Ayah akan pulang besok setelah negosiasi terakhirnya hari ini. Mobil kesembilan yang dijualnya. Dan kami, kami bahkan sudah duduk manis dan menikmati keliling kota dengan mobil idaman orang-orang di luar sana yang baru akan mendapatkannya beberapa bulan kemudian setelah kami puas menikmati kemewahan mobil ini ketika sembilan mobil lainnya baru diluncurkan dan kemudian kami akan mendesain yang baru untuk dijual kembali.

Rabu, 12 Desember 2012

Ayah Patricia

Aku pernah mengenal seseorang, samar-samar dalam ingatanku. Kalau tidak salah saat aku masih duduk di bangku SD. Aku mengenalnya di tempat kursus bahasa Inggris. Dulu, masalah kasus korupsi tidak se-Booming seperti saat ini, belum mendapat tempat menjadi lahapan media massa yang haus akan berita dan berusaha mencari sensasi belaka.
Anak itu berjenis kelamin perempuan, periang dan rajin. Cekatan, cantik, dan tidak sombong. Aku tahu dia anak seorang yang cukup berada dan berkaitan dengan kenegaraan, yang saat ini aku tahu mungkin ayahnya adalah salah satu anggota pejabat kelas menengah.
Dulu, belum ada kasus seperti Bank Century atau Hambalang di mana para pelakunya dengan bangga memamerkan gigi-geligi mereka yang menggelikan itu di depan layar kaca. Bahkan mungkin wajah ayah perempuan itu tak terpampang di halaman utama koran. Aku tak tahu, aku tak kenal dan sampai saat ini belum pernah melihat wajah ayahnya. Bahkan wajah temanku itu saja aku sudah lupa.
Jadi, ketika itu, kelas belum mulai. Karena aku diantar jemput oleh layanan jasa seperti itu, aku datang lebih awal dari teman-temanku yang naik kendaraan pribadi. Karena kelasnya masih terisi murid-murid lain yang memakai kelas yang sama, aku menunggu sambil duduk di sofa yang empuk di ruang tunggu. Ada dia, ya ampun, bahkan namanya aku lupa, mungkin Patricia, atau Ellise, atau Alice, aku lupa.
Dia duduk sendiri dan wajahnya murung saat itu. Jadi aku menghampirinya dan berusaha mengajak mengobrol.
“Halo Pat,” akhirnya kita sebut saja namanya Patricia, aku benar-benar lupa.
“Hai,” jawabnya singkat tanpa memandang wajahku. Kakinya digores-goresnya ke lantai yang tampak mengkilap karena dibersihkan dengan telaten oleh petugas kebersihan yang ramah, aku sering menyapanya.
“Kenapa murung?”
Patricia menggeleng. “Papa mau ditangkap polisi.”
“Kenapa?” aku merasa sangat polos sebagai anak SD. Yang aku tahu, ditangkap polisi itu berarti karena kita sudah berbuat nakal, itu yang mama bilang kalau aku berbuat nakal, nanti ditangkap polisi. “Papa Patricia nakal yah?”
“Bukan. Katanya, papa sudah korupsi.”
“Korupsi itu apa?” aku benar-benar anak kecil yang polos.
“Korupsi itu ambil uang milik orang lain, kaya mencuri gitu,” jelasnya mulai mengangkat wajahnya.
“Jadi papa Patricia mencuri?”
“Bukan mencuri, tapi korupsi,” sanggahnya agak kesal.
“Oh, bukan mencuri, tapi korupsi.” Aku mengangguk tanda mengerti walau sebenarnya aku masih bingung.
Saat pelajaran hari itu, Patricia tampak diam, tidak seperti biasanya. Miss yang mengajar kami juga sampai heran. Tapi hari itu berlalu begitu saja.
Pertemuan berikutnya saat dua hari kemudian, Patricia tidak datang. Begitu juga minggu-minggu berikutnya. Patricia tidak pernah hadir lagi.
Saat membayar uang les di kantor administrasi (anak-anak les membayar uang les mereka sendiri dengan bahasa inggris, ini tempat kursus resmi) aku sekaligus bertanya pada petugasnya, tentu saja dengan bahasa inggris yang tidak lancar. “Miss, Patricia doesn’t come again, why?”
Petugas itu menatapku lalu tersenyum, “She is not here again because she stop studying English in here.”
Aku menangkap maksudnya bahwa Patricia berhenti les. Saat itu aku menganggapnya biasa. Aku baru mengerti saat aku duduk di bangku SMA. Ada nama yang pernah aku dengar, kali ini kasus yang serupa yang Patricia pernah ceritakan padaku, kasus korupsi. Mungkinkah itu adalah ayah Patricia?


Senin, 13 Februari 2012

Janji 10 tahun


Kamu nakal yah.
Padahal kita sudah berpisah jarak yang jauh tapi kamu masih saja muncul.
Waktu aku naik busway di kota Jakarta kamu muncul di jendela yang transparan itu. Padahal kendaraan sedang melaju dengan cukup kencang melalui fly over yang tinggi tapi kamu ada di sana.
Lalu aku turun dan menyebrang jalan. Lagi-lagi kamu ada, kali ini di mobil-mobil yang sedang menunggu aku menyebrang jalan. Ah, kau ini. mengganggu konsentrasiku. Kau tahu kan itu bahaya?!
Lalu ketika aku membeli karcis kereta dan menunggu di peron, kamu datang menghampiri bersama hembusan angin kering. Panas! Kau ingat betul, kau ciptakan suasana sebagaimana kita dulu. Kau benar-benar jahat! Mengapa kau begitu membuat aku membangun kembali masa lalu kita? Padahal kau sendiri sering berkata, “Sudah selesai.” Tapi tak juga kau lepaskan aku.
Aku sudah mencoba menghubungimu beberapa kali tapi kau menolak. Kau diam seolah kau tak ada di seberang sana. Aku mencoba diam, kali ini kau yang menyapa. Aku benar-benar tak mengerti maksudmu.
Kau buat aku penasaran lalu kau tinggal aku untuk membuat aku mencari dan tak mendapatkan. Kau kejam! Aku sudah bilang aku suka padamu. Kau diam lagi. Ah kau ini. Kau cuma anggap aku temanmu. Sepertinya aku berharap terlalu banyak yah. Sudahlah, kan aku sudah bilang akhiri saja tapi kau tak rela juga.
“Maumu apa?” kutanya kau tapi kau diam. Lalu aku pergi, kau menahan lenganku. Aku menoleh lalu kau menghilang seperti asap. Kau ini apa sebetulnya?
Peron kosong dan sepi ini saksi bisu diantara kita betapa aku merindukanmu. Lagi-lagi jarak, lagi-lagi diam. Kau duduk saja diujung bangku. Kau tak menyapaku, kau juga tidak menoleh. Aku di sini sayang, menolehlah. Rasanya aku berharap tanpa lelah. Rasanya aku akan segera mengakhirinya di sini saja.
Kau bilang, “Jangan pergi!”
Hanya itu saja kata-katamu tapi tak ada usahamu mencegah langkah kakiku. Pintu kereta tertutup kembali membawa aku ke tujuannya. Kau tak melambai. Kau ini benar-benar tak berperasaan! Selama ini kita apa? Kau menatap melalui kaca di depan mata-mu itu. Kau kira enak didiamkan seperti itu?!
Aku menelan ludah kembali. Sepertinya kelelahan ini akan segera berakhir ketika aku menginjakkan kaki di stasiun, dua atau tiga stasiun lagi lalu aku sampai.
Kau masih terduduk di kursi yang sama. Sepuluh tahun yang lalu. Menatap ke pintu persis ketika aku masuk ke dalamnya. Kali ini disebelahmu ada seorang anak laki-laki. Kuakui dia mirip denganmu. Apa? Dia memang anakmu. Ah, yah. Kita benar-benar berakhir yah?
Kau menggeleng, tidak katamu. Kita masih bisa bersama, janjimu. Tapi apa yang kulihat? Di sana ada anak yang bukan dari rahimku dan aku harus membesarkannya? Kau tega! Kau mau menyiksaku? Kau pikir aku pekerja sosial?
Kau memohon, kau bilang dia anak piatu, kau butuh istri dan anakmu butuh ibu. Aku bertahan. Aku bingung. Sebenarnya apa yang sudah terjadi sepuluh tahun yang lalu?
Benar kan?! Kita sudah berakhir dan kau menikahi gadis impianmu itu? Jadi selama ini kita apa?
Kau jelaskan kau suka padaku juga. Terlambat! Mengapa tak sepuluh tahun yang lalu? Yang kau mau sekarang aku merawat anakmu itu karena kau begitu mencintai ibunya. Kau benar-benar keterlaluan! Aku tak mau. Aku sekarang akan meninggalkanmu lagi seperti sepuluh tahun yang lalu.
Yah benar, aku yang meninggalkanmu saat itu. Kau hanya bilang jangan pergi tapi tak mencegahku. Mana bisa itu membuktikan kau tertarik padaku. Aku mau lebih, aku menuntut lebih. Kau ini, tak pernah mengerti diriku, tak mengerti maksudku.
Aku egois? Yah, yah, kau yang mengatakannya karena aku tak bisa memenuhi keinginanmu juga kan? Aku tak mau merawat anakmu, dia bukan anakku! Seenaknya saja kau mengklaim kalau dia bakal jadi anakku kalau kita menikah. Tak bisa begitu. Aku menolak.
Sudahlah, ngomong denganmu tak akan usai. Paling kau yang mengakhiri dengan diam. Lihat kau terdiam sekarang. Sepertinya kereta-ku akan segera datang menjemput kembali.
Sudah yah, aku sudah memenuhi janji kan? Bertemu denganmu sepuluh tahun lagi di tempat yang sama, aku penuhi sekarang. Melepas rindu sekejab. Tak masalah masa lalu itu, tak perlu dikorek kembali.
Aku sudah membangun hidupku yang baru. Nah, keretanya datang. Kau tak mau mencegahku kali ini? Bukankah kau membutuhkanku? Kau diam lagi, artinya tidak. Kali ini aku tak menunggu lagi yah. Aku berangkat dulu. Mungkin tak kembali lagi. Suamiku menungguku.

Kamis, 08 Desember 2011

Ada Ayah


Suatu hari ayah mengajakku ke sebuah taman bunga yang indah. Banyak bunga warna-warni terhampar di sana. Merah, kuning, pink, ungu, putih, kuning, semua ada. Bentuknya unik-unik. Ada yang lonjong ada yang bulat, tangkainya ada yang panjang ada yang pendek. Semuanya menarik hatiku untuk menyentuhnya, memegangnya, serta mencium aroma dari masing-masing bunga.
Saat itu aku memakai jubah putih berlengan panjang dan bawahnya sampai menyentuh tanah panjangnya, dan polos pada semua sisi yang lain, tanpa gambar, putih bersih. Aku berputar-putar sambil merentangkan tangan diantara bunga-bunga yang sepertinya ikut menari bersamaku akibat buaian angin. Ke kanan dan ke kiri. Aku tersenyum dan sepertinya bunga-bunga itu juga tersenyum ke arah-ku.
Ayah hanya mengamati tingkah laku-ku saja dari bangku taman yang ber-cat putih juga. Ayah memakai terusan putih juga, dari atas ke bawah tak ada sambungannya, bersih sekali kelihatannya. Ayah mengangguk sesekali ketika kulambaikan tangan. Ayah tersenyum ketika aku menari-nari dan tertawa riang melihat bunga-bunga di taman itu.
Tiba-tiba, ayah berdiri dari bangku taman itu, lalu berjalan mendekat ke arahku. Aku pun menghentikan aktivitasku sejenak dan menunggu apa yang kira-kira akan ayah lakukan selanjutnya. Ayah mengulurkan tangannya minta disambut oleh tanganku, aku pun memberinya sesuai harapannya. Lalu kami bergandengan tangan, ke arah luar dari taman. Ayah terdiam saja tanpa sepatah kata-pun dari mulutnya. Aku mencoba berkata-kata, tapi tak ada sesuatu pun yang dapat kuucapkan dari bibirku. Jadi kami hanya berjalan dalam keheningan. Hening yang damai, hening yang membawa sukacita dan ketenangan.
Aku mencoba memandang wajah ayah untuk mencari tahu apa yang akan ayah lakukan selanjutnya. Tapi aku tak dapat melihat wajahnya, terlalu berkilau. Mungkin karena cahaya dari belakangnya sehingga aku tidak dapat melihat wajah ayah yang aku yakin tampan itu. Jadi, aku kembali berdiam diri saja sambil terus berjalan dan kini sudah meninggalkan taman.
Suasana sejuk tadi berganti dengan kehangatan yang kian lama kian menjadi panas. Aku memandang sekeliling dan seketika pemandangan berubah menjadi padang gurun yang gersang, kering, dan panas. Tak ada bunga-bunga tadi, yang ada hanya hamparan pasir berwarna coklat terang ditimpa cahaya matahari yang seolah tak pernah padam. Hembusan angin kering hanya membawa hawa panas yang kian membuat kerongkonganku serak karena kering. Sepi. Aku tak suka ini.
Ayah melepas gandengannya dan mulai berjalan di depanku. Aku bahkan belum sempat bertanya padanya, ada apa ini? Apa yang sedang terjadi? Dan mengapa ayah membawa aku ke tempat seperti ini? Aku tidak suka. Ayah tahu itu, ayah merasakan hal itu. Ia hanya menoleh dan mengisyaratkan padaku untuk berjalan mengikutinya. Aku memandangnya, lama. Lalu aku memutuskan untuk ikut berjalan mengikutinya, menyusuri setapak demi setapak langkah yang telah dibuat oleh ayah. Aku percaya pada ayah. Dia ayahku yang baik, dia ayahku, itu kenyataannya. Tak ada siapapun di padang gurun ini, hanya ada aku dan ayah. Walau aku takut, walau ada bahaya sekalipun, aku tahu dan yakin, ayah-lah yang akan menolongku.
Aku berjalan mengikutinya tanpa bicara. Beberapa kali kami harus melewati kumpulan kaktus, kadang kami harus berhenti sejenak untuk bermalam. Malam yang dingin. Hanya pasir yang menjadi alas tidur kami dan langit yang menjadi tenda-nya. Aku menggigil tiap malam dan kepanasan tiap siang. Ayah terus berjalan. Aku mulai bertanya, ke mana ayah akan membawa aku? Tapi aku tetap saja mengikutinya tanpa mengeluarkan kata-kata untuk bertanya padanya.
Suatu hari, kami bertemu dengan seekor singa gurun. Aku takut, aku ingin melawan, tapi bagaimana ini? Aku tak sekuat singa itu kurasa. Singa itu kelaparan. Aku tahu, singa itu menjadikan kami target santapannya. Tubuhnya sudah mengurus, kulitnya mengkerut menyembulkan tulang-tulangnya. Aku mencoba memandang sekeliling. Tak ada bantuan. Hanya aku. Singa itu berjalan mendekat ke arah-ku. Aku takut. Tongkatpun tak ada dalam genggamanku. Ingin aku berlari, tapi kakiku serasa membatu.
Singa itu berjalan perlahan tapi pasti. Kemudian tiba-tiba, hap! Dia meloncat hendak menerkam aku. Aku memejamkan mata dan pasrah. Aku menunggu tubuhku rebah dan menunggu  dan membayangkan kulitku robek lalu mengeluarkan darah. Tapi semua itu tidak terjadi. Ketika masih dengan takut-takut aku membuka mataku, singa itu sudah tergeletak tak bergerak. Aku memeriksanya dengan seksama yang ternyata singa itu sudah mati. Aku melihat ayah di sisi sebelah bangkai singa itu.
Seketika aku menangis. Aku lupa dengan siapa aku berjalan. Aku lupa aku tidak sendirian. Ada ayah di depanku. Dia yang memimpin perjalanan ini. Bukankah aku mengikuti setiap langkahnya? Yah, aku menyesali kebodohanku. Sejenak tadi aku sempat takut kalau-kalau aku mati. Sejenak tadi aku sempat berpikir bahwa hanya ada aku sendiri tanpa pertolongan siapapun. Tapi tidak! Ayah hadir saat di mana aku memerlukan pertolongan. Tepat sekali waktunya. Dialah satu-satunya penolongku.
Lalu ayah memandangku dan tersenyum seolah berarti, “Aku di sini, jangan takut. Aku-lah yang bertanggung jawab atas dirimu, menolongmu, melindungimu, dan menjagamu selalu. Percayalah padaku, aku akan selalu besertamu.”
Aku terhenyak dan menangis lebih kencang. Aku menyesal. Senyum ayah bukanlah mengartikan, “Kau sih tidak percaya kepadaku. Kau lupa kalau ada aku?”
Ayah tidak menyalahkan aku, ayah bahkan seolah tak ingat aku telah melakukan kesalahan. Padahal aku yakin, ayah pasti tahu kalau tadi sejenak aku melupakan dirinya. Tapi ayah tak membahasnya. Ayah berbalik dan berjalan kembali. Aku pun mengikuti langkahnya. Saat ini, hatiku lebih tenang, aku merasa aku aman, aku merasa aku berjalan di jalan yang tepat bersama dengan orang yang tepat juga. Lalu kami meneruskan perjalanan kami.

Rabu, 28 September 2011

Di mana Mike?


Seorang laki-laki kecil bernama Mike tinggal di sebuah rumah kecil di pinggiran suatu kota. Suasananya tenang dan damai. Tiap pagi kesejukan dari tetesan-tetesan embun membuat daun-daun lebih berseri-seri. Danau kecil di belakang rumah Mike tampak seperti cermin raksasa bila terpantul sinar sang surya yang merajai pagi. Tiap pagi, Mike selalu bangun lebih awal. Suatu hari ibunya  bertanya, “Kenapa kamu bangun pagi-pagi, Mike?”
“Aku mau berlomba dengan matahari, Bu dan aku menang!” serunya semangat.
Tiap pagi, ayahnya selalu pulang dari menjala ikan. Mike selalu menyambut ayahnya dengan sebuah senyum.
“Hai, ayah. Mari kubantu,” katanya sambil tersenyum, kedua tangannya yang mungil menjulurkan siap memberi bantuan. Sang ayah selalu tersenyum lalu mengelus rambut anak semata wayangnya yang sangat disayanginya itu. Segala rasa lelah di badannya akibat terpaan angin malan tak terasa lagi.
“Mari pulang,” ajak ayahnya menggandeng jemari anaknya yang mungil, tak peduli lagi betapa sedikitnya hasil tangkapannya hari itu atau di hari lain betapa tak ada hasilnya usaha yang dilakukan sang ayah, ayah tetap berjalan riang ke rumah kecil mereka.
Ibu selalu menanti di rumah untuk menyambut ayah, bahan apa yang ayah bawa untuk mempersiapkan makan nanti malam. Tapi, ibu harus menerima bahwa ayah pulang dengan tangan hampa kali ini.
“Yah?” tanya ibu dengan wajah bingung sambil memberi isyarat apakah ada yang ayah bawa.
Ayah menggeleng lesu, namun dipaksanya seulas senyum mampir dibibirnya.
“Tidak apa Bu. Ibu dan ayah jangan sedih. Kami akan ke hutan untuk memburu seekor kelinci hutan. Nanti siang kami sudah pulang dan ibu bisa mulai memasak,” hibur Mike mengelus punggung tangan ibunya.
“Yah,” kata ibu sambil tersenyum, mengelus rambut-rambut lurus Mike.
Mike dan ayah kini sudah berada di hutan. Mereka berusaha memburu sesuatu untuk dimakan. Sementara sang ayah memasang jebakan untuk kelinci hutan, Mike berjalan-jalan di sekeliling daerah hutan itu.
“Mike, jangan jauh-jauh!” teriak sang ayah dari jarak sepuluh meter, tangannya masih sibuk memilih rotan yang akan dianyam menjadi jebakan. Ini santapan malam mereka, ia tak mau mengecewakan istrinya dua kali.
“Baik ayah,” jawab Mike patuh. Mike mulai memetiki jamur-jamur liar yang biasa dibeli ibunya di pasar bila musim kemarau tiba.
“Aneh, jamur ini hanya tumbuh pada musim kemarau saja,” gumam Mike. Namun, tangannya masih memetiki jamur-jamur itu dan langkah kakinya semakin membawanya jauh dari ayahnya. Suara siul ayahnya yang menjadi tanda keberadaan sang ayah sudah tidak terdengar lagi.
“Mike!” panggil ayahnya begitu menyadarinya suasana begitu hening dan dia sudah seorang diri di hutan itu.
Tak ada jawaban. Ayah berusaha sekali lagi.
“Mike!” kali ini suaranya lebih kencang. Lagi-lagi suasana hening.
“Mike!” ayah mulai beranjak dari tempat duduknya dan mulai berjalan cepat ke arah terakhir ia melihat Mike. Langkahnya makin dipercepat, suara semak-semak beradu dengan kain membuat gemerisik semakin kencang.
Sunyi, sepi. Suara degup jantung ayah dapat didengarnya sendiri.
“MIKE!” teriak sang ayah histeris. Anaknya semata wayang, sulitkah untuk menjaganya?
Hari makin malam, cahaya makin meredup. Sudah sore menjelang malam dan sang mentari tampak masuk kembali ke peraduannya. Ayah pulang dengan langkah gontai. Sementara, ibu sudah menunggu dengan cemas di depan pintu.
“Mengapa sore sekali Yah? Bukankah janji kalian siang hari?” tanya ibu. Ayah hanya menggeleng lesu.
“Loh, mana Mike?” ibu mencoba melongokan lehernya panjang-panjang untuk melihat batang hidung anak laki-lakinya itu.
“Maaf Bu, aku tak membawa pulang apa-apa,” sesal sang ayah.
“Tak apa Yah, kita masih bisa makan nasi goreng, walau tanpa lauk tambahan,” ujar ibu.
“Bukan itu Bu...”
“Lalu mana Mike?” tanya sang ibu, ia mulai gugup.
Ayah hanya menunduk sambil menggeleng-geleng.
“Dia hilang Bu, di hutan...”
“Apa?!” ibu mulai pucat, dirasakan sekujur tubuhnya lemas.
“Bagaimana ini bisa terjadi?” ibu mulai panik.
“Maaf Bu, aku tak bisa menjaganya dengan baik. Sekarang dia pasti sendirian di hutan sana. Ayah macam apa aku ini?” ayah makin menyalahkan dirinya sendiri. Ibu hanya menangis meratapi Mike yang sekarang entah di mana. Dalam pikirannya, Mike mungkin saja jatuh ke lubang, mungkin saja dia sedang bersembunyi di goa, atau yang paling mengerikan adalah Mike dimakan binatang buas.
“TIDAK!!!” ibu berteriak sambil menangis, menelungkupkan wajahnya ke ubin dalam-dalam.
Lalu, di manakah Mike sebenarnya?