Sebuah kisah klasik

Beberapa cerita murni untuk guyonan atau sekedar melepas kejenuhan. Ada juga diambil dari kisah nyata, pengalaman hidup diri sendiri maupun orang lain, dengan penambahan beberapa imajinasi sebagai fantasi.



Akhir kata, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.



Harapan penulis, semoga pembaca menikmati kisah-kisah yang ada di blog ini.



Selamat membaca...

Minggu, 15 Mei 2011

Padang Belantara


Ini kisah tentang aku, seorang pangeran.

Aku adalah pangeran dari KERAJAAN ABADI. Aku mengembara di negri orang asing. Di negri ini kujumpai banyak hal yang menyenangkan. Tapi tak satupun bisa kunikmati.  Aku melewati negri itu dan berlalu. Aku menuju padang belantara. Tanpa arah tanpa peta. Aku memberanikan diri menyusurinya seorang diri.
Padahal aku seorang pangeran. Harta kekayaan melimpah di kerajaan AYAH-ku. Tapi aku diasingkan di sini agar aku mencari jalan pulang kembali. Aku diuji. Layakkah aku menjadi anggota kerajaan? Layakkah aku dinobatkan sebagai anak RAJA YANG DIMULIAKAN?
Yang kubawa hanyalah sebuah senter. Bajuku adalah baju rakyat jelata. Emas dan perak tidak ada padaku. Aku sendiri tanpa arah,  di sini, terdampar di padang gurun.
Angin berhembus membuat pasir-pasir berterbangan. Aku terus berjalan dalan kehausanku. Terik matahari semakin membakar kulitku yang hanya terbalut pakaian tipis. Tapi aku ingat, ada sesuatu yang mesti  aku tuntaskan. Rasa-rasanya jalan menuju RUMAH-ku ada di ujung padang gurun ini.
Tik-tok-tik-tok.
Aku tahu waktu terus berlalu. Aku tak dapat menghitungwaktu. Kakiku lelah berjalan. Aku bahkan tak tahu ke mana aku melangkah.
Di sore yang senja, dalam cahaya yang makin ditelan bumi, aku menemukan seseorang. Terbujur kaku. Dia tak bergerak, tak bersuara, tak bernyawa. Aku mendekatinya, makin dekat dan semakin dekat. Kuhempaskan rasa takutku, kuganti dengan rasa ingin tahuku.
Dia memakai jubah hitam yang sudah lusuh. Banyak bolong di sana-sini, sepertinya sudah rapuh dimakan kejamnya waktu. Ditangannya tersemat sebuah BUKU TUA bersampul kulit warna hitam. Tapi entah mengapa, waktu menghentikan keganasannya, ia seperti tak dapat melahap BUKU TUA itu. Pelan-pelan kuangkat tulang tenggorak yang sudah tak berdaya itu, lalu aku mengambil BUKU TUA itu. Aku penasaran. Mengapa seorang pengembara seperti dia mati sambil memegang sebuah buku, bukannya harta benda yang lain seperti emas. Apakah BUKU TUA ini lebih penting daripada harta bendanya, bahkan nyawanya sekalipun?
Aku memasukan BUKU TUA itu ke dalam kantong mantelku yang menjuntai panjang hampir menyentuh tanah. Lalu aku meneruskan perjalanan. Hari telah jauh malam, akhirnya aku memutuskan untuk beristirahat. Atap persinggahanku ialah langit dan alas tidurku adalah pasir. Tapi mataku tak dapat terpejam. Aku kembali teringat apa yang tadi kutemukan tadi sore.
Aku merogoh saku mantelku, membukanya secara acak lalu mulai membaca dengan senter.

Tetapi carilah dahulu KERAJAAN ABADI dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Apa? Ini kan nama KERAJAAN AYAH-ku? Mengapa bisa tertulis di sini? Mengapa pula orang itu bisa mempunyai kitab ini?
Rasa penasaranku semakin menjadi-jadi. Aku mulai membacanya lebih cermat, meneliti setiap kata demi kata, berusaha ingat terus dan jangan sampai lupa. Aku melupakan rasa lelahku dan rasa kantukku. Kitab ini menarik.
Hingga fajar menyinggsing, aku baru berhenti membaca. Aku harus menyelesaikan perjalananku dan bertanya pada SANG RAJA AGUNG mengenai kitab ini.
Di tengah perjalanan, aku melihat goa besar. Rasa penasaranku terpacu. Di tengah gurun itu ada goa sebesar itu? Siapakah penghuninya? Apakah sebesar tempat tinggalnya itu? Aku mengintip-intip ke dalam.
Dalam bayang-bayang atap goa, aku masih bisa melihat jelas. Sesosok makhluk raksasa dengan sisik tajam dibagian ekor. Kulitnya yang tebal berwarna merah melapisi tubuhnya dan dua tanduk di kepalanya terlihat sangat tajam. Naga, itulah pikiranku. Makhluk legenda kata orang yang sekarang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Satu taringnya yang mencuat dari sela bibirnya makin membuat aku ngeri. Aku semakin mengamati naga itu. Mata sebelah kirinya mempunyai sebuah luka yang cukup serius kurasa.
Di sela-sela kakinya yang dilengkapi cakar-cakar yang kuat, aku melihat. Sebuah bunga putih. Cantik sekali. Walaupun masih kuncup dan terlihat akan mekar, aku yakin bunga itu akan sangat indah. Bunga itu menarik perhatianku. Naga ini mempunyai selera yang tinggi. Dia tahu barang bagus untuk dijaga.
Aku semakin nekat, aku harus memiliki bunga itu. Bunga yang unik, tumbuh di batuan dalam goa. Padahal sedikit cahaya matahari yang diserapnya. Tapi ia dapat tumbuh begitu indahnya. Aku mengambil pisau kecilku, berjaga-jaga kalau naga itu bangun.
Setiap langkah aku perhitungkan, aku meminimalisir suara berisik supaya tidak membangunkan naga itu. Aku melewati dua lubang hidungnya yang lebih besar dari kepalan tanganku. Nafasnya terasa panas. Yap, sedikit lagi aku mencapai bunga itu. Aku mencabutnya pelan-pelan sampai ke akar. Aku tahu tentang tumbuhan, ia tak dapat tumbuh tanpa akar.
Aku kembali hendak kabur sejauh-jauhnya dari naga itu. Tapi karena saking senangnya aku sudah mendapatkan bunga itu, aku tak sengaja menginjak ranting yang membuat suara ke-re-tak.
Naga itu terbangun dari tidurnya. Ia menatapku dengan sebelah matanya. Melihat bunga yang dijaganya aku rebut, naga itu semakin terjaga. Dihembuskannya api dari moncongnya. Karena aku yang kaget dan aku terlambat menghindar, tangan kiriku terbakar sedikit. Kulitku terkelupas, gosong dimakan api. Bahkan bajuku sampai bolong, bajuku satu-satunya yang melekat di tubuhku. Rasa perih segera menjalar sampai ke bagian kepala. Tapi aku tak perduli. Aku tetap menggemgam bunga putih itu di tangan kiriku dan berusaha menusuk naga itu dengan pisau kecilku.
Pikirku aku akan mati, aku tak sanggup bertarung dengan naga itu. Tapi rupanya, kedua kaki naga itu terantai kuat di tembok belakang goa. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku tidak mau bunga putih-ku direbut lagi oleh siapapun. Aku akan menjaganya walau harus mengorbankan nyawa.
Aku berlari mengitari naga itu dan berusaha merobek kulitnya yang tebal. Tapi usahaku sepertinya tak membawa hasil yang memuaskan. Sabetan tiba-tiba dari ekor naga menghempaskanku pada tembok goa yang keras. Aku meringis kesakitan. Sepertinya beberapa tulangku retak, bahkan patah. Tapi aku tak peduli.
Aku melihat sesuatu bersinar terselip di bawah kaki kanan sang naga, aku segera tahu itu adalah pedang bermata dua yang sangat tajam, pedang itu bertahtakan delima merah dan safir hitam, khas bangsawan. Sepertinya aku pernah melihatnya dulu, tapi itu hanya seperti bayang-bayang saja.
Aku menebaskan dengan satu tanganku pada ekor naga yang kembali menyerangku. Ekor naga itu putus dengan satu kali tebasan. Aku terkagum, pedang itu panjangnya sekitar lima kaki, namun terasa ringan di tanganku.
Naga itu mengerang kesakitan. Kepalanya diputar menatapku tajam. Ia berusaha melebarkan sayapnya sehingga meruntuhkan atap goa. Bumi terasa bergetar. Naga itu berusah menandukku dengan kedua tanduknya yang runcing sambil memamerkan taring-taringya. Aku memanjat tubuh naga itu yang kasar. Kulitnya ternyata benar-benar keras. Aku mencoba meraih matanya. Naga itu bergerak-gerak liar. Aku terpelanting jatuh ke samping tubuhnya. Cakar sang naga hampir saja mencabik tubuhku kalau saja aku telat satu detik menghindarinya.
Aku dengan beranih berjalan ke arah depan naga itu. Naga itu segera menyemburkan api-apinya dengan buas. Aku melompat ke arah kanannya. Naga itu menunduk untuk menandukku. Inilah kesempatannya. Aku menebas pedangku dengan cepat ke arah mata kanannya. Naga itu kesakitan. Ini luka yang parah. Sekarang aku berhasil melumpuhkan penglihatannya. Naga itu sudah buta total.
Tiba-tiba, hembusan api panas datang ke arahku. Aku kembali menghindar, namun karena buru-buru, pedangku terlepas dari genggaman dan terpental ke luar goa. Sepertinya naga itu mendeteksi keberadaanku dengan penciumannya itu. Aku tak dapat berlari keluar karena pintu masuk goa terportal dengan moncong naga yang besar. Ekor naga yang meliuk-liuk lemah mengalirkan darah hitam yang kental membuat aku jijik.
Aku melirik ke bunga yang kugenggam. Bunga itu tampak lelah kuajak berperang seperti ini. Aku harus menyelesaikan naga ini dengan cepat, kalau tidak bunga ini akan mati. Naga itu mengendus-endus bauku. Sepertinya bau darahnya menyamarkan bauku. Di tanganku tak ada senjata. Lalu aku tergelincir karena darah naga itu yang menghasilkan bunyi berdebum. Naga itu sekarang mengetahui posisiku. Gawat! Aku berusaha meraba apa saja di sekitarku sebagai pertahanan diri. Dan aku menemukan ranting yang pertama kali kuinjak, ujungnya yang patah membuatnya berbentuk runcing. Ini harapan terakhirku.
Naga itu bersiap mengeluarkan apinya lagi. Aku dengan gesit menghindar. Api itu melesat jauh di samping kiriku. Butanya naga ternyata tidak membuat aku lebih mudah. Naga itu menggepakkan sayapnya kembali membuat reruntuhan namun sebuah batu besar malah menimpa kepalanya. Naga itu kesakitan, ia membuka moncongnya lebar-lebar. Inilah saatnya! Aku melempar sekuat tenaga ranting di tanganku hingga menanjap keras di langit-langit mulut sang naga. Sedetik kemudian, naga itu ambruk. Ia mati. Aku memenangkan pertarungan dengan sang naga.
Aku berjalan keluar dengan gontai melewati bangkai naga, aku meninggalkannya sendiri di sana. Lalu aku menemukan pedang itu lagi. Perak yang berkilauan ditimpa sang surya membuat pedang itu terlihat luar biasa. Darah sang naga setetes pun tidak melekat pada pedang itu. Aku tersenyum kembali pada perjalananku. Di tangan kananku, kugenggam bunga itu. Di tangan kiriku, kupegang pedang itu. Dan kuraba saku mantelku, ternyata BUKU TUA itu aman karena berada di bagian kanan. Aku tersenyum senang melupakan rasa sakitku. Kini kumiliki semuanya, sesuatu yang baru untuk menemaniku di perjalananku selanjutnya.
Aku meneruskan perjalananku. Sekarang aku harus menemukan air dan tanah yang baik di padang belantara ini. Pasti ada oasis, ada mata air yang dapat memberi aku dan bungaku minum. Aku menamai bungaku Sweety.
Malam hari itu terasa lebih dingin. Tangan kiriku mati rasa sebab tak ada lagi kain yang menutupi kulitku, bahkan tak ada kulit yang menutupi daging. Lukanya serius, aku masih bisa merasakan panasnya api saat api itu melahap habis kulitku, hanya meninggalkan bekas yang akan kukenang selamanya. Aku tersenyum, ada rasa bangga, sebuah perjuangan, sebuah pengorbanan untuk mendapatkan Sweety-ku. Aku terlelap menghitung bintang. Sweety-ku aman dalam dekapan dadaku.
Cahaya matahari pagi membangunkanku. Aku mengerjapkan mata untuk membuat pupil mataku menyesuaikan dengan cahaya yang menyilaukan. Tak ada kicau burung yang ada hanya desiran pasir yang berhembus ditiup angin. Aku tak peduli, ada Sweetyku di sini.
Aku terus berjalan dan berjalan. Tiba-tiba aku menemukan sebuah lembah. Aku penasaran. Aku memang orang yang ingin banyak tahu walaupun tak semua hal kuketahui.
Aku melongokan kepalaku ke dasar lembah itu. Lembah itu bertebing curang. Akar-akar pohon gurun yang mencuat keluar dinding menahan dinding tebing agar tidak longsor. Di dasar lembah ada sebuah aliran air kecil mengalir. Di seberang aliran air itu banyak bunga serupa seperti Sweety. Berwarna-warni memikat hati. Di seberang aliran air itu pula kulihat ada tanah yang cukup subur untuk tempat Sweety hidup. Aku memutuskan menuruni lembah yang curam itu. Tapi begitu lebatnya akar-akar pohon yang mencuat membuat aku tersangkut beberapa kali. Kulit-kulitku disayatnya tanpa ampun. Aku meringis nyeri. Tapi aku tak peduli. Aku mencapai dasar lembah dan segera membenamkan diriku ke dalam air.
Segar! Sekaligus nyeri. Air membasuh kulitku, membersihkannya dan membawa pergi darah-darah yang mengalir dari lukaku. Aku meringis lagi. Air itu seperti jarum-jarum kecil yang ditusuk-tusukan ke dalam dagingku.
Aku memberi Sweety-ku minum juga. Warna putihnya cemerlang, tidak ternoda sedikitpun dengan darahku, tentu saja, aku menjaganya dengan hati-hati, lebih daripada menjaga nyawaku sendiri.
Setelah puas minum, aku segera keluar dari aliran air itu dan keluar dari sisi yang berlawanan dengan arah datangku tadi.
Aku semakin takjub. Bunga-bunga warna-warni yang kulihat dari puncak lembah tadi lebih indah dari sini. Semuanya masih kuncup sama seperti Sweety-ku. Aku mencabut pelan bunga-bunga itu sampai ke akar-akarnya dengan hati-hati. Tidak semua bunga dapat kuambil. Lalu aku menaiki tebing dan akar-akar pohon menjadi tempat aku berpijak dan bergelantung. Aku sampai di puncak lembah. Benarlah dugaanku. Tanah disitu lebih baik daripada di dasar sungai. Aku segera meletakkan perlengkapan yang kubawa, melepas bajuku dan mulai menggali.
Aku menggali dengan jari-jariku. Terasa perih. Kuku-kuku-ku kotor, penuh dengan lumpur. Tapi aku tidak peduli. Aku membuang batu-batu kecil, menggali cukup luas untuk bunga-bungaku.
Aku menanam bunga-bunga itu semua. Aku kembali turun untuk mengambil bunga-bunga yang masih banyak di dasar lembah sana. Aku tidak mengenakan bajuku. Aku tidak mau mengambil resiko bajuku akan makin koyak. Sebagai gantinya, kulit-kulit tubuhku-lah yang terkoyak. Aku sekali lagi tidak peduli.
Aku turun dan mengambil bunga-bunga itu lagi, menaiki tebing lalu menanam. Menuruni lembah lagi, mengambil bunga lalu menaiki tebing untuk menanamnya kembali. Begitu seterusnya. Sampai petang hingga fajar masuk ke peraduannya aku baru berhenti. Aku hanya menuruni lembah sekali lagi untuk mengambil air dengan bajuku untuk menyiram bunga-bungaku.
Aku melihat sebuah padang bunga di tengah padang gurun ini, padang belantara.
Aku berburu belalang gurun dan sarang lebah yang sudah menjadi makananku selama di padang belantara ini. Dulu aku harus menebang pohon-pohon kaktus untuk mendapatkan air dari batangnya, sekarang aku hanya harus mengambilnya di dasar lembah. Aku telah menebang akar-akar pohon dengan pedangku yang menjadi lintasanku meluncur ke bawah, jadi aku dapat meminimalisir luka-luka di tubuhku.
Hari telah jauh malam, aku melanjutkan kembali membaca BUKU TUA itu.

Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan bagi SANG RAJA!

Siapakah suara yang berseru-seru di padang gurun seperti ini? Tak ada suara oranglain yang kudengar selain suaraku sendiri sampai saat ini.
Aku meneruskan membaca.

Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebutkan Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya.

Jalan yang mana ini? Aku ingin menuju jalan ini. Apakah aku layak melalui jalan ini?
Aku dapat tertidur lelap malam ini di tengah-tengah padang bunga. Aku sangat berharap bunga-bunga ini akan segera mekar. Aku tidur di samping Sweety.
Lagi-lagi cahaya matahari-lah yang membangunkanku. Entah aku harus mengeluh entah aku harus bersyukur menghadapi tiap hari yang baru. Aku memulai hariku dengan menyirami bunga-bungaku, sepertinya mereka haus. Dengan cepat tanah tempat mereka bertumbuh menyerap air yang kusiram. Aku senang melihat padang bunga ini. Aku kembali mengambil bunga-bunga itu lalu menanamnya kembali. Entah mengapa aku melakukan ini, padahal aku tidak mendapat upah. Aku mulai menyusun bunga-bunga itu menjadi suatu lintasan, suatu jalan untuk dilalui supaya aku ingat di mana aliran air itu.
Setelah habis semua bunga di lembah itu aku tanam, aku melihat hasil pekerjaanku. Bunga-bunga itu membentuk suatu jalur lurus sampai ke ujung.
Waktu cepat berlalu dan hari mulai malam kembali.
Aku duduk di samping Sweety. Angin malam yang berhembus semilir menggoyangkan Sweety. Aku melanjutkan membaca BUKU TUA.
Ternyata semalam aku terlelap. Begitu bangun, aku mendapati Sweetyku lunglai. Ia layu. Warnanya yang putih bersih sekarang tampak pucat. Aku bingung. Aku merawatnya dengan ekstra hati-hati, aku paling memperhatikannya, aku yang selalu menjaganya, aku mengorbankan nyawaku untuk mendapatkannya, aku yang menaruh harapan padanya ingin melihatnya mekar. Sekarang apa yang kudapat? Sweety-ku layu, ia sekarat, bahkan mungkin mati. Kelopaknya berguguran satu persatu. Aku sedih, aku menangis. Aku menyesali dan kembali mengingat. Salah apa aku sehingga Sweety begini?
Aku menghabiskan sepanjang hari itu hanya berdiam diri duduk di samping Sweety. Tak peduli terik matahari atau angin kencang, aku ingin tetap bersama Sweety. Aku menangis sangat sedih. Aku terluka sangat dalam. Hatiku hancur lebur mendapati harapanku sudah sirna. Lama aku termenung. Aku tak dapat tidur malam itu sampai pagi menjelang. Akhirnya, aku memutuskan untuk menyiram sekali bunga-bunga yang lain dan Sweety. Aku melanjutkan perjalananku, tujuan awalku bertemu SANG RAJA. Aku berusaha melupakan Sweety, harapanku yang indah, sekarang ada di belakangku, aku memunggunginya. Aku berjalan menjauh. Sweety-ku pergi meninggalkan aku.
Aku berjalan dan terus berjalan, rasa lapar dan haus tak kupedulikan. Sampai jauh malam aku terus berjalan sampai kutemukan sebuah tebing batu tinggi menjulang di depanku. Aku bersandar padanya dan terlelap. Seperti biasa, aku dibangunkan sinar pagi. Aku menggeliat memunggungi sinarnya supaya aku dapat terlelap lebih lama tapi malah aku disengat oleh panasnya. Surya benar-benar memaksa aku untuk bangun. Aku terduduk tegak mengusap mataku lalu aku bangkit berdiri, berbalik untuk memperhatikan tebing batu tempat sandaranku. Tiba-tiba mataku menangkap warna putih yang tersembul dari celah-celah batu. Tak jauh dari tempat di mana aku berdiri, hanya sejinjit kaki saja aku dapat mengambilnya. Tapi aku teringat pada Sweety, aku jadi malas mengambilnya. Aku berjalan menjauh hendak pergi. Aku menengok ke belakang, aku berhenti. Aku menengok sekali lagi. Nuraniku memaksaku untuk kembali dan membawa bunga itu serta. Akhirnya, nuraniku yang menang. Aku mengambil bunga putih itu dengan mudah. Aku mengantonginya dan melanjutkan perjalananku.
Aku berpikir-pikir sepanjang perjalanannku. Bunga itu dapat tumbuh di batuan dengan air yang sangat minim, namun bunga itu tampak berkilau dengan warna putihnya. Hatiku masih sakit, aku tidak mau terlalu memperhatikan bunga lain selain Sweety-ku yang walaupun sudah pergi tapi tak pernah benar-benar pergi dalam memoriku.
Aku berjalan kembali hendak menanamkan bunga itu di ujung jalan bunga-bunga lain yang sebelumnya sudah yang kutanam. Beberapa sudah mekar sedikit namun yang lainnya masih kuncup. Aku mengais tanah lagi dengan jari-jemariku yang sudah menebal di bagian ujungnya karena kapalan. Ini tenaga terakhirku, aku sudah teramat kelelahan. Sudah seharian aku belum makan dan minum. Aku tergeletak tak berdaya dan tertidur sampai tengah malam.
Aneh, ini malam yang aneh. Aku belum pernah bertemu dengan seorangpun di padang gurun ini. Tapi apa yang dihadapanku adalah seorang perempuan muda yang cantik. Aku belum pernah melihat seorang gadis seperti dia. Pakaiannya berwarna merah muda dengan beberapa selendang melingkar di lengannya. Dia duduk diam di atas sebuah dahan kayu besar yang sudah kering, menatapku yang baru saja memelekkan mata. Ia memangkukan kedua tangannya di atas pahanya yang tertutup gaunnya yang merah muda sampai ke ujung kaki.
“Siapa kau?” tanyaku. Dia lalu tersenyum ke arahku.
“Akhirnya kau bangun Pangeran. Aku sudah menunggumu bangun berjam-jam yang lalu. Kau sangat tertidur pulas.”
“Siapa namamu?” aku mengulang pertanyaanku.
“Aku ini bunga yang kau temukan tadi pagi. Sebuah mawar sharon. Kami hanya tumbuh di padang belantara ini. Dan kau menanyakan namaku? Kau yang harus memberi nama kepada kami Pangeran karena kau yang menemukan kami.”
“Kami? Siapa yang kau maksud kami?”
Gadis itu menunjuk pada bunga-bunga yang hanya bergoyang ditiup angin malam.
“Aku tidak mengerti. Apakah kau seorang putri?”
“SANG RAJA telah berpesan. Kalau aku ditemukan oleh seorang pangeran dari KERAJAAN ABADI, maka aku pun diangkat oleh RAJA YANG MAHA AGUNG sebagai putriNYA juga.”
“Siapa namamu?” aku mengulang pertanyaanku.
“Kau yang akan memberi aku nama Pangeran,” gadis itu masih menatap mataku tepat di kedua maniknya.
“Aku...” aku ragu-ragu. Memberi nama akan menciptakan suatu hubungan yang terikat, aku teringat Sweety. Aku memberinya nama dan merawatnya. Namun, ia malah pergi meninggalkanku,
Gadis itu menangkap sorot ragu-ragu di mataku. Senyumnya lenyap dari bibirnya, namun hanya sekejap saja. Ia kembali tersenyum lagi.
Aku terjaga di pagi hari. Terlalu cepat untuk bangun. Bahkan aku mendahului bangunnya sang surya.
“Apa aku bermimpi?” tanyaku pada diri sendiri. Kulihat bunga putih yang baru kutanam. Warnanya berubah menjadi merah muda. Apa benar gadis itu adalah jelmaan dari bunga ini. Bunga apa ini? Sepertinya gadis itu telah mengatakannya tadi.
Aku kembali menyusuri padang bunga itu, mengambil air. Entah ke mana rasa lelahku. Aku meneguk air sebanyak-banyaknya dan kembali menyiram bunga-bunga itu. Aku masih berharap benar-benar ada sebuah jalan di padang belantara ini. Aku meneliti satu per satu. Angin gurun yang kencang mematahkan batang-batang beberapa bunga yang lemah. Aku mencabutnya dan menyingkirkannya di tepi lalu menggantinya yang baru dari bunga di dasar lembah yang mulai tumbuh kembali. Aku mengintip di bawah pohon tempat Sweety tumbuh dulu. Bahkan bangkai tubuhnya yang layu dulu tak ada lagi di tempatnya. Rasa aneh menyusuri dadaku, antara rasa cintaku untuk peduli atau ego-ku untuk melupakannya. Aku memilih melupakannya. Mungkin tidak bisa tapi aku akan mengusahakannya.
Aneh, dari dasar lembah itu tumbuh bunga-bunga ini dengan sendirinya, nampaknya begitu kuat, namun ketika ku tanam di atas sini, tak semua dapat tetap tegak. Hanya yang mampu bertahan menghadapi keganasan padang gurun ini yang dapat tetap hidup.
Aku kembali kepada bunga merah muda di ujung jalan. Aku menyiramnya dan berharap malam segera datang dan gadis itu, kalau memang jelmaan dari bunga ini, aku berharap dia hadir dalam mimpiku.
Aku membaca-baca BUKU TUA itu, menunggu waktu datangnya malam. Aku mencoba menahan kantuk tapi akhirnya aku terlelap juga. Ketika kubuka mata, langit malam bertabur bintang yang menjadi pemandanganku pertama kali, sangat indah sekali.
“Kau sudah bangun?” sapa suara yang sudah aku kenal, suara gadis itu.
“Ori?” akhirnya aku memutuskan memanggilnya begitu.
“Ori? Jadi itu nama untukku?” gadis itu membulatkan matanya senang. Sekarang namanya Ori dan akulah yang memberinya nama sebab akulah yang menemukannya.
Aku mengangguk. Dia berjalan mendekat kepadaku yang masih tertidur beralaskan pasir. Di tangannya ada perban dan kain halus. Ia menyentuhkan kain itu kearah lukaku, luka di tangan kiriku. Rasanya dingin menyejukkan. Perlahan tapi pasti, luka-luka itu langsung sembuh, tak ada rasa sakit yang kurasa, hanya sebuah bekas luka yang kini tampak tiada arti.
“Terimakasih,” kataku menatapnya. Ori tersenyum ke arahku. Aku senang melihat senyumnya. Hari ini ia mengenakan gaun ungu muda.
“Hei, mengapa kau begitu mudah berubah warna, maksudku bajumu,” kataku menunjuk gaunnya yang menyapu pasir di sekelilingnya.
“Karena begitulah cara aku bertahan hidup. Ingat di mana kau mendapatkanku?”
Aku ingat, di tebing batu. Memang sulit untuk bertahan hidup di tempat seperti itu.
Lalu kami mulai bercerita. Atau lebih tepatnya aku bercerita. Aku menceritakan bagaimana aku menemukan Sweety, bagaimana perjuanganku sampai aku mendapat luka di tangan kiriku dan bagaimana akhirnya Sweety pergi meninggalkanku. Aku menangis lagi mengingat semuanya itu. Aku menangisi luka lamaku yang kembali terbuka menganga seakan-akan menertawakan kepayahanku, kelemahanku bahwa untuk menjaga setangkai bunga yang sudah diperjuangkan pun aku tak mampu.
Ori menyimak betul ceritaku. Ia ikut hanyut dalam kisahku dan mulai menangis saat aku menangis dan tertawa saat aku menceritakan rasa senangku mengalahkan naga dan berhasil mendapatkan Sweety. Fajar segera bangun sebentar lagi, aku tak ingin memejamkan mata tapi belaian lembut tangan Ori di rambutku semakin membuai aku kembali ke alam tak sadar. Aku kembali terlelap.
Sinar pagi menembus kelopak mataku. Aku melewati malam yang panjang. Hari ini aku bangun dengan semangat. Aku mengambil air, menyiram bunga-bunga itu lalu melihat apakah ada bunga yang patah lagi. Aku menyiram Ori. Warnanya ungu muda, seperti bajunya tadi malam. Aku tersenyum menatap bunga yang kutemukan itu.
Ori bukanlah yang pertama. Aku menemukannya dengan tidak sengaja. Awalnya aku ragu untuk mengambilnya padahal Ori tidaklah sulit untuk kudapatkan. Mungkinn Sweety adalah bunga yang sulit untuk aku miliki tapi akan lebih sulit untuk kehilangan dan melepas Ori saat ini. Bunga yang awalnya tak pernah diperhitungkan namun sekarang mulai menarik perhatianku. Warnanya yang unik membuat aku semakin tertarik untuk mengamatinya. Dua malam ini Ori hadir terus dalam mimpiku. Kalau itu adalah benar-benar mimpi, aku berharap dan sangat berharap, aku tak pernah terbangun.
Malam itu aku menunggu saat dunia mimpi tiba. Tapi rasa kantuk yang kuinginkan malah tak kunjung datang. Akhirnya kubaca-baca BUKU TUA dengan senter. Kubolak-balik buku itu, semakin kubaca aku semakin mengenal SANG RAJA. Tentang segala perbuatan SANG RAJA yang begitu luar biasa, tentang janji-janji indah SANG RAJA, tentang KERAJAAN ABADI yang tak pernah terbayangkan manusia manapun di bumi ini.
Aku menutup BUKU TUA itu dan mengalihkan perhatianku pada Ori, bunga yang sekarang telah berhasil mencuri perhatianku.
“Terimakasih,” bisikku pada bunga itu. Ori seperti melambaikan tangkainya dengan angin semilir yang membuat aku kembali tertidur.
Aku sudah tak tahu di mana aku di bagian padang belantara ini, ke mana lagi aku harus melangkah dan sudah berapa lama aku seolah-olah terperangkap di sini. Hari ini tubuhku sangat sakit, aku tak mampu bangkit berdiri terlalu lama atau berjalan jauh untuk menuruni lembah mengambil air menyirami padang bungaku. Aku duduk dan menunggu datangnya malam. Hanya Ori yang sekarang menjadi penghiburanku.
Di kejauhan aku menangkap sesosok bayangan. Bayangan manusia. Aku melambaikan tanganku tinggi-tinggi dan berteriak sekencang-kencangnya. Berhasil! Sepertinya orang itu mendengar. Kini orang itu berjalan kian mendekat dan mendapati aku duduk sendiri di sini diantara padang bunga-ku.
“Hai, Saudara. Darimana dan hendak ke mana kau datang?” tanyaku pada pria bertubuh gempal dihadapanku.
“Aku hendak mencari jalan pulang ke kerajaan ayahku. Aku harus meneruskan perjalananku. Ada apa Saudara? Pertolongan apa yang bisa kuberi padamu?” tanya pria itu.
“Aku sedang sakit. Tolonglah berikan air pada bunga-bungaku. Mereka terbiasa kuberi air tiap hari,” kataku meminta.
“Saudara, sudah kukatakan perjalananku masih jauh, aku pun membutuhkan persiapan air ini,” katanya menolak.
“Kumohon. Lihatlah bunga-bunga ini. Mereka sangat memerlukan air,” aku memohon.
Ia memandang sekelilingnya dengan rasa takjub.
“Wow, Saudara. Ini adalah bunga-bunga mawar Sharon yang hanya dapat tumbuh di padang belantara. Mereka seharusnya mampu bertahan di padang gurun seperti ini. Tapi, dari mana kau dapati semua bunga-bunga ini? Yang aku tahu, mereka hanya tumbuh di dasar-dasar lembah.”
“Aku mendapatinya di dasar lembah di ujung jalan ini. Jika kau mengikuti jalan ini, kau akan menemukan bunga-bunga ini tumbuh liar di samping aliran sungai. Biasanya aku mengambil air di sana untuk menyiram mereka. Tapi hari ini aku begitu sakit sampai-sampai tak dapat berdiri. Tolonglah Saudara. Berilah mereka minum dan kau dapat mengambil persediaan air-mu di dasar lembah itu. Kau juga akan menemukan mawar-mawar Sharon seperti ini,” kataku membujuk sekali lagi.
Pria gempal itu setuju. Diberinya air semua bunga-bungaku. Aku meminta sebotol air lagi untuk diriku dan untuk Ori.
“Terimakasih Saudara,” kataku menjabat tangannya.
“Ada apa dengan bunga ini? Mengapa iya begitu kau lindungi?”
“Mawar ini spesial. Dia kutemukan di tebing batu yang jauh di sana. Maka itu aku sangat menyayanginya.”
Pria gempal itu mengangguk-angguk. Ia segera menyusuri jalan bunga menuju lembah. Mengambil air dan memasukannya dalam gentong dan sejumput mawar-mawar Sharon lalu menanamnya menjadi suatu padang bunga yang membentuk sebuah jalan lain.
“Oh, yah, aku lupa bertanya di mana kerajaan saudara tadi,” aku menepuk dahiku.
Sekarang aku bisa sedikit tenang. Bunga-bungaku takkan kubiarkan layu karena kekurangan air.
Aku meneruskan perjalananku untuk mencari mawar-mawar Sharon yang lain untuk meneruskan membuat jalan sampai pada KERAJAAN ABADI. Aku mengembara berputar-putar di padang belantara ini dan menemukan beberapa mawar-mawar Sharon yang lain. Kutanamkan semuanya itu dalam satu jalur yang membentuk sebuah jalan.
Kadang aku harus bertarung melawan singa gurun yang ingin mengacaukan kebun bungaku atau anjing-anjing yang iseng ingin menghancurkannya. Ada juga ular-ular beludak yang ingin membinasakan bunga-bungaku dengan bisanya yang beracun, namun semuanya kuhadang, kutebas dengan pedangku. Aku akan menjaga semua kepunyaanku, aku tak mau kehilangan mereka. Sebab bunga-bungaku, sedang kupersiapkan untuk membentuk suatu jalan menuju kepada KERJAAN ABADI untuk menyambut datangnya SANG RAJA MAHA AGUNG.

Sabtu, 23 April 2011

It Is A Real One?

“Huff,” Tantia menghela nafas lagi. Sudah berkali-kali Tantia katakan tidak pada cintanya namun Joni yak gentar juga mengejar-ngejar Tantia.

Oke, aku menghargai perasaannya, tapi ini soal hati, soal ketegasan dan soal keputusan, batin Tantia.

Tantia kembali ke ruang biologi, hari ini ada praktikum di laboratorium mengamati bakteri di dalam mulut.

“Hai Tan,” sapa Joni dengan senyum lebarnya. Tantia balas tersenyum namun segera menggantinya dengan ekspresi datar.

“Kok manyun gitu?” perhatian Joni membuat Tantia muak sebab beberapa pasang mata disekelilingnya kini menatap mereka. Tantia tidak suka menjadi pusat perhatian, apalagi menjadi bahan pembicaraan anak-anak. Bukan salah Joni sepenuhnya dan jangan salahkan Tantia juga kalau aku menghindar. Gosip di luar kami begitu tak enak. Tantia dibilang si ‘Pembuat Harapan Palsu’ atau ‘Si Cantik Tak Punya Hati’.
Semua bermula dari tiga bulan lalu...

Suasana kelas riuh, Tantia yang dikenal periang dan ceria bahkan sedikit alay alias kampungan menjadi salah satu pembuat ribut itu. Tantia berjalan keliling kelas.

Dengan kejayusan-kejayusan dan kehebohannya, Tantia berhasil menarik perhatian Joni, si murid teladan kelas wahid, pendiam dan taat aturan menjadi azas hidupnya.

Awalnya, Joni hanya sekedar lirik melirik, mencari tahu suara cempreng siapa yang menyebabkan polusi suara di kelas, lalu ingin menegornya. Namun, setelah tau suara itu milik Tantia, dengan kejayusannya, Joni malahan ikut tertarik dengan obrolan tidak terarah dan nggak bermutu milik Tantia, yang tadinya Joni mau menegor malah ikut asyik terbuai canda tawa murid kelas XI IPA-3 itu.

“Jon, lo suka Tantia yah?” celutuk Sava suatu ketika.

“Wah, Jon, mau daftar jadi penggemar juga yah?” Tantia ikut-ikutan. Bukannya salting, Tantia malah mendukung dan menggoda Joni. Joni yang ditembak begitu, kelabakan dan mukanya memerah menahan malu lalu pergi.

Tak ada yang benar-benar menyadari perasaan Joni saat itu terkecuali Sava yang indra penciumannya lebih tajam dari anjing dalam soal cinta-cintaan begini.

“Sms dari siapa Tan?” Sava melirik mencoba mengintip pesan singkat yang masuk di layar HP Tantia.

“Mau tau aja,” Tantia pura-pura menutupi. Sava merenggut pura-pura marah dan Tantia hanya cengar-cengir memperlihatkan sms yang ternyata dari Joni.

“Cie, di sms-in tuh. Sejak kapan kalian deket?” Sava mulai menyelidik di balik ucapan godaannya itu.

“Uda seminggu-an sih Sa.”

“Kayanya dan pasti bener deh, Joni suka lo Tan!” Sava akhirnya mengambil kesimpulan dari analisisnya belaka. Tantia hanya mengangkat bahunya dan mengisyaratkan kata ‘Sok tahu’ tanpa mengeluarkan suara.

Pulang dari sekolah, Tantia mengecek kembali telepon genggamnya yang mungil itu. Ada satu pesan baru. Tantia langsung membukanya, isinya singkat padat. Awalnya Tantia kaget membacanya, lalu kembali tersenyum.

“Ternyata, Sava memang berbakat menjadi detektif,” gumam Tantia.

Tantia langsung mengabarkan hal itu kepada Sava bahwa kesimpulan yang dibicarakannya tadi pagi benar, bahwa memang Joni menyukainya.

“Yah lo ikutin hati aja. Sebenarnya lo suka dia nggak si Tan?” suara Sava masih terdengar jernih melalui kabel-kabel telepon yang menempel di gagangnya.

“Nggak,” kata Tantia sambil menggeleng walau Sava sebenarnya tidak dapat melihatnya.

“Terus apa yang bakal lo lakuin?”

“Nggak tahu sih Sa, tapi gue bakal tegas mengatakan TIDAK pada Joni.”

Tantia benar-benar melaksanakan keputusannya itu, dinyalakannya HP-nya yang tadi di non-aktifkan lalu mulai mengetik sms.

Sori Jon, tapi kita jadi temen aja. Maaf yah kalau selama ini gue uda buat lo salah tanggep.

Dan pesan-pun dikirim. Tantia menunggu sms balesan dari Joni, namun sms itu tak pernah diterimanya.

Keesokannya, Tantia mulai mengambil langkah seribu. Berita tentang Joni suka Tantia dan Tantia menolaknya langsung menjadi topik hangat di kelas XI IPA 3 itu. Alhasil, Tantia sukses jadi selebriti HOT GOSIP.

“Sa, kok jadi gini sih?” Tantia baru saja mendaratkan pantatnya di kursi tapi omongan teman-temannya sedari dia di pintu kelas sudah membuat Tantia tidak nyaman. Belum keluhan Tantia ditanggapi, Joni datang menghampiri.

“Hai, Tantia, uda ngerjain PR mat?”

“Belom Jon,” Tantia menjawab singkat.

“Nih, pinjem punya gue aja,” Joni meletakkan buku PR mat-nya lalu kembali kekumpulan teman-teman cowoknya.

“Sarap tuh orang. Tumben banget, si Mr. Anti Nyontek, pendiam dan teladan kelas atas, sekarang segampang itu membiarkan PR-nya dipinjem oleh Mrs. Lebay dengan sukarela. Emang cinta itu buta yah.”

“Weh, nyantai aja dong ngatainnya,” Tantia sewot diomongin sama teman sendiri. Lalu kedua teman sejawat itu sama-sama terdiam. Bukan karena merenung, tapi karena tangan mereka sibuk harus berkoordinasi dengan mata mereka untuk menyalin jawaban PR mat.

Kembali ke masa kini...

Joni memang gigih dan itu Tantia akui, sudah sejak tiga bulan itu Joni tak mundur walaupun Tantia terus menghindar, baik secara terang-terangan maupun jelas-jelasan, namun Joni maju terus pantang mundur.

Suara berisik kembali menyadarkan Tantia mengembalikan ingatannya ke masa sekarang di mana dihadapannya sudah ada Joni yang mengeruk pipi bagian dalam dengan tusuk gigi dan mulai mengamatinya dengan mikroskop.

“Tan, lihat deh, lucu banget loh, bakterinya banyak banget bisa bergerak.” Tantia tersenyum kecut, mengapa juga ia harus sekelompok berdua dengan Joni. Ini karena ulah teman-temannya sengaja tidak mau berpasangan dengan mereka, ya sudah yang sisa yah Joni dan Tantia, sementara Sava sudah dari kemarin tidak masuk karena sakit.

“Tan, kenapa nggak diterima aja sih si Joni. Kurang apalagi coba, pinter, setia, ganteng sih lumayan,” bujuk Yanti yang pingin tahu-an-nya besar banget, buat bahan gosip sama temen se-genk-nya.

“Tahu lo Tan, Cuma beri harapan palsu aja sama Joni,” Santo ikut-ikutan nimbrung.

“Woi, cowok-cowok yang lain, hati-hati nih sama Tantia, nanti diberi harapan palsu!”

“What?!” Tantia melotot, bakso Pak Kumis aja kalah gedenya.
“Eh, To. Lo kalau nggak ada bukti tutup mulut aja deh. Kalau misalnya ada cewek yang suka sama lo dan lo menanggapi biasa-biasa aja tapi lo dibilang pemberi harapan palsu lo mau? Kalian tuh nggak ngerti jadi nggak usah ikut campur. Ini soal prinsip, soal hati. Kalau perasaan bilang nggak yah nggak. Masa mau nerima cinta orang karena kasihan?! Dipikir dulu kalau ngomong jangan asal nyeplas-nyeplos kaya sapi ompong, minta ditampol yah?! Lo pikir gue seneng dikuntilin terus tiap hari, mesti dijodoh-jodohin sama kalian ditambah dikasih julukan yang super duper jahat kaya gitu?! Kalian tuh FITNAH!!!” dada Tantia sudah naik turun menahan amarah.

Santo hanya cuek saja berjalan menuju kantin meninggalkan Tantia dalam amarahnya. Semua pertengkaran dan omongan Tantia didengar Joni yang daritadi mendengarkan di daun pintu yang terbuka sendiri oleh dorongan angin. Santo yang berpapasan dengan Joni di pintu hanya bisa menepuk ringan bahu Joni yang terkulai lemas. Tantia langsung mendekap mulutnya erat. Teman-teman ceweknya segera kembali ke tempat duduk masing-masing.

Joni langsung melemparkan sytrofoam berisi bubur Pak Dede yang enak dan mahal itu ke lantai lalu berlari entah ke mana.

“Ya ampun, gue salah lagi,” keluh Tantia pasrah.

“Tantia, gawat! Mending lo cepet ke lapangan deh,” Roli terengah-engah di pintu kelas ditambah keributan di lorong sekolah berkumpul di lapangan.

“Kenapa sih?” Tantia yang masih BT walau dengan langkah berat mengikuti saran Roli juga. Anak-anak sudah ramai berkumpul membawa kain lebar dan TOA. Terlihat Joni bergelantungan di tembok pembatas lantai 4.

“Nggak ada gunannya lagi gue hidup kalau orang yang gue cintai membenci gue!” Joni berteriak histeris sambil memegang erat pagar yang menjadi tumpuan berat badannya.
“Tantia gimana tuh?” Roli menyikut Tantia menyadarkan Tantia yang syok berat.

“Gue, ke-atas-sekarang,” Tantia segera berlari menaiki tangga kelantai empat.
Nafasnya sudah terengah-engah.

“Jon, jangan gila, jangan idiot kaya gitu!” Tantia berusaha membujuk Joni sambil mengatur nafas.

“Sudah terlambat Tantia, gue tulus mencintai lo tapi lo ternyata begitu benci sama gue,” Joni masih histeris.

“Sadar Jon, balik ke sini sekarang juga kalau lo beneran cinta sama gue,” pikiran Tantia langsung melayang merasa ini sebagai sebuah sinetron aja.

“Janji lo terima cinta gue?”

“Jangan konyol Jon, cepet balik. Lo sudah membuat heboh sekolah ini melebihi kehebohan gue. Kalah deh pamor gue,” Tantia ngelantur masih bisa ngelawak.

“Tantia, gue serius. Terima cinta gue atau gue mati!”

“Terserah apa kata lo deh!”

“Oke, lo ke sini bantuin gue naik,” pinta Joni yang disetujui Tantia. Tantia menarik tangan Joni, namun rupanya tangan Joni berkeringat karena terlalu lama bergelantung. Tantia yang tidak memperhitungkannya dan merasa geli langsung melepaskan pegangannya dengan Joni.

“TIDAK!” Joni berteriak bersamaan dengan Tantia yang menutup matanya rapat-rapat.
Terdengar bunyi berdebum yang kencang dan Tantia tidak berani membuka matanya.
“Tantia! Bangun!” seseorang mengguncang tubuh Tantia. Sinar matahari dari jendela yang tidak bergorden itu menyengat mata Tantia yang kelopaknya tak dapat melindunginya dari terang sinarnya.

“Hm,” Tantia menggeliat di kasur.

“Sudah siang Tantia, kalau kamu nggak bangun nanti kamu bisa terlambat!” mama meninggalkan kamar.

“Sekolah? Jadi ini di rumah?” Tantia langsung terduduk dan memandang sekeliling ruangan dan memang benar bahwa itu memang kamarnya.

“Jadi, Joni bunuh diri itu?”

Tantia segera bersiap-siap berangkat sekolah. Sesampainya di sekolah, Tantia sudah siap-siap untuk menebalkan kuping mendengar sapaan plus ledekan dari Joni maupun teman-temannya.

“Hai, Tantia sayang,” sapa Joni yang langsung mengapit lengan mulus Tantia.

“CIE! PASANGAN BARU!” teriak teman-teman Tantia norak.

“WHAT?! BUKANNYA TADI CUMA MIMPI KALAU JONI BUNUH DIRI?”

“Memang dan Joni yang hampir jatoh dari lantai empat selamat karena kekuatan...cinta,” Ibnu memperagakan kata-kata cinta dengan menggelikan.

“Dan kamu nerima cinta aku sebelumnya, ingat kan?” Joni memandang Tantia yang sekarang menjadi pacarnya.

“APA?! TIDAK...!”

BRUK.

Tantia terjatuh dari kasurnya dan terbangun.

“Syukurlah, ternyata cuma mimpi.”

“Tantia sayang, kamu nggak apa-apa?” Joni langsung membopong Tantia.

“Hah? Ngapain lo deket-deket?” Tantia segera melepaskan diri dari Joni.

“Kamu tadi pingsan dan sekarang di ruang UKS. Ingat?”

“TIDAK...!” Tantia kembali ke alam mimpinya dalam ketidaksadarannya.

Rabu, 23 Maret 2011

Bella

Sudah berhari-hari ini aku memikirkannya. Bayangannya selalu mampir di otakku. Entah saat aku makan, saat aku menonton tv, saat aku belajar, saat aku bermain. Mungkin aku gila tapi entah mengapa setiap kali ada hal, kukaitkan hal itu dengan dia. Bella, teman sekelasku yang amat manis, menurut anggapanku. Pertama kali kami sekelas, dia memang sudah menjadi pusat perhatian. Dia tak pernah berdiam diri, selalu ceria, melempar senyum sana sini, bersikap ramah bila ditanya dan tak pernah marah. Mungkin aku hanya bisa bilang ia terlalu banyak bicara, namun itu normal bagiku, dia kan cewek dan memang begitulah perempuan.

Temanku malah menganggap sebaliknya. Dia bilang Bella terlalu cerewet, terlalu mencari perhatian dan kebaikannya adalah kepura-puraan, tubuhnya yang terlalu gemuk, rambutnya yang ikal berantakan dan cara berjalannya yang sok model. Menurutku dia iri, dia tak mau membuka hati untuk mengenal orang lain tapi sudah terburu-buru menghakimi yang buruk. Aku tahu, setiap orang pasti ada yang tidak menyukai tapi kalau kau tidak menyukai Bella, kau sudah mengambil suatu keputusan yang salah.
Mungkin benar, cinta itu buta dan aku buta karenanya. Mungkin benar kalau cinta memabukkan, aku mabuk karenanya aku tak dapat berpikir sehat. Aku mencari tahu tentang Bella apapun itu, apa yang dia suka dan tidak dia sukai, di mana dia tinggal, siapa saudaranya bahkan siapa yang dia sukai dan pernah dia sukai aku ingin tahu.
Tapi hal yang terakhir itu aku tidak tahu.

Aku berusaha mencari tahu, melalui temannya, melalui gerak-geriknya. Tapi Bella terlalu jauh untuk dijangkau. Kau dapat melihat seolah dia terbuka, selalu tersenyum seolah tanpa beban, tak ada masalah dalam hatinya, matanya seolah selalu bersinar membuat sekitarnya nyaman di dekatnya. Tapi aku tahu, ada sesuatu yang dalam yang ia sembunyikan yang orang lain tak pernah tahu, tak pernah menyentuhnya.

“Hai, Bella,” aku menyapanya dan dia tersenyum membalas.

“Sudah kerjakan pr kimia?” aku mulai berbasa-basi, walau tidak sepenuhnya. Ini kan menunjukkan perhatianku padanya.

“Sudah, mau pinjam?” aku tahu jawabannya akan seperti itu, Bella memang rajin dan pintar, menambah nilai plus di mataku.

“Tidak terimakasih, aku juga sudah,” kataku memamerkan diri aku juga tak kalah rajinnya.

Lalu ia tersenyum dan berlalu. Selalu seperti itu. Seperti ada tembok yang ia bangun diantara dia dengan orang lain, mungkin orang lain tak menyadarinya, tapi aku sadar.
Aku kembali ke bangku tempat dudukku di pojok kelas dan mulai mengamatinya dari sana. Bella tersenyum lagi pada temanku, Robby, lalu keluar kelas. Aku tahu kebiasaannya, pasti Bella ke toilet untuk memeriksa rambut panjangnya yang hitam tergerai, aku tahu Bella selalu ingin tampil rapi.

“Sean, pinjam pr kimia dong,” Robby melempar tasnya di atas meja sampingku dan tanpa keberatan aku menyodorkan bukuku padanya.

“Eh, si Bella makin cantik yah, kayanya dia kurusan deh,” Robby memulai percakapannya sambil menyalin jawabanku ke bukunya. Aku mengangkat alisku yang tentu saja tidak dilihat oleh Robby yang sedang sibuk menyalin.

“Tumben ngomongin Bella, bukannya kau nggak suka dia Rob?”

“Yah, itu dulu, sekarang beda. Dia sudah berubah, nggak terlalu cari perhatian sana sini, nggak terlalu mengobral senyum dan nggak secerewet dulu.”

“Berlebihan,” sambungku langsung. Aku tak suka pujaan hatiku itu dihina-hina.

“Yah ampun, nggak usah terlalu sensi begitu, lagipula kan dia bukan siapa-siapa kau Sean, kenapa kau jadi sewot sendiri?”

Aku menunduk mengalihkan perhatian pada keypad handphone-ku yang sudah mulai mengelupas. Robby menangkap sinyal aneh dari diriku.

“Kau menyukainya kan?” tembak Robby tepat sasaran, lalu dia tersenyum sendiri.

Ini gawat, kalau suatu hal yang ingin kau rahasiakan, Robby lah orang pertama yang harus kau perhatikan untuk menutup mulutmu rapat-rapat di depannya dan aku melanggar kesepakatan itu.

“Yah, siapa yang nggak suka dia sih?” aku berterus terang. Sudah terlanjur basah.

“Hem,” Robby menggaruk dagunya yang aku tahu tidak gatal, “Benar juga. Aku saja sampai dibuat penasaran dengannya.”

“Wah,” aku mendesah, antara terkejut dan kesal. Robby sainganku? Itu yang baru aku tahu, entah berapa cowok lagi yang naksir Bella.

“Menurutku, hal ini harus segera diselesaikan secara cepat dan cermat. Kita harus menentukan siapa yang akan diajak kencan oleh Bella. Aku akan buat votting.”

“Kau gila, Rob. Bella bukan barang taruhan kan? Kalau sampai dia tahu, kau akan dibencinya!”

“Tak masalah,” Robby berkata seolah itu bukan masalah besar. Aku mulai curiga kalau Robby hanya bermain-main.

Keesokkannya, Robby tak hanya sekedar membual. Ia melakukan apa yang dikatakannya. Ia menyebar kertas angket untuk memilih siapa yang terfavorit di kelas itu dan seperti yang kuduga, Bella menjadi yang pertama.

“Wah, Sean, sainganmu banyak,” kata Robby yang membuat bahuku lemas.

“Tapi kurasa yang lain hanya sebatas mengagumi. Ayo, semangat Sean!” Robby menepuk bahuku dengan keras. Aku harus meringis menahan sakitnya. Tapi semangatnya tersalurkan padaku.

Aku mulai menyusun rencana bersama Robby untuk menyatakan cintaku, lalu aku memilih tanggal 24 Juni, semester akhir tahun kedua aku di SMA dan itu artinya dua minggu lagi. Aku tak ingin mengganggu Bella dengan membuatnya tahu perasaanku lalu ia merasa terbeban untuk menjaga perasaanku. Test semester akhir akan usai satu minggu lagi dan saat semuanya selesai, saat acara pertandingan antar kelas yang membuat otakmu kembali normal, aku akan menyatakannya.

Robby membantuku menulis surat cinta, membantu memilih warna amplop apa yang pas, parfum apa yang akan kupakai, menyemir sepatuku hingga mengkilap dan mencuci bersih tas-ku dari noda tinta yang mengusik pemandangan itu.

Akhirnya, hari yang kutentukan pun tiba. Aku menyisir rapi-rapi rambutku, mengecek ulang seragamku yang telah disetrika dan menyemprotkan parfumku secukupnya, aku tidak mau dibilang terlalu kampungan, lalu segera menuju sekolah.

Suasana sekolah ramai, hari ini pertandingan final futsal kelasku dan kelas B. Aku langsung mengarahkan mataku ke seluruh penjuru dan sudut dan sisi lapangan. Tapi sejauh mata memandang, tak ada tanda-tanda kehadiran Bella. Aku menuju kantin mencari Robby yang sedang menikmati kopi dan roti panggangnya.

“Rob, Bella nggak ada,” kataku sedikit panik.

“Duduk dulu,” Robby menyuruh, “Mau kopi?”

“Tidak,” aku menggeleng, “Bella...”

“Bella? Kau tak tahu kabar terbarunya?” Robby seolah terkejut.

“Apa?” aku sudah tak sabar.

“Orangtuanya resmi bercerai, jadi dia memutuskan untuk pergi, dia sudah terbang ke
New York dengan pesawat jam lima pagi tadi.”

Penjelasan Robby bagai petir di siang hari. Segala yang kupersiapkan dan kurancang gagal total. Menyatakan perasaankupun aku belum lakukan tapi kini pujaan hatiku telah pergi meninggalkanku sendiri, di sini, di kota kecil di India.

Senin, 03 Januari 2011

Anak Pungut

Seorang pria gagah, tegap, dan tampan sedang menunggu dengan cemas di ruang tunggu depan ruang bersalin. Sudah dua jam ia menunggu kelahiran putranya yang pertama dari istrinya yang sangat dicintainya. Seorang suster datang menghampiri untuk menenangkannya dengan mengatakan padanya bahwa istrinya akan baik-baik saja. Dokter telah mengusahakan yang terbaik.

Memang inilah kali pertamanya ia akan mempunyai sebuah momongan yang didambakannya, anak lelaki pula. Sebab, anak laki-laki dapat meneruskan usahanya. Di umur yang terbilang muda, Azolla menjadi pengusaha paling sukses di dunia Internasional dan masuk jajaran TOP 10 orang terkaya dunia. Semua itu didapatnya dengan hasil usaha yang tidaklah mudah sebab dengan statusnya yang adalah pewaris tunggal tahta kerajaan suatu negara, walaupun negara itu kecil, ia harus membuang itu semua dan memulainya dari nol.

Alasannya sederhana, Azolla mencintai seorang gadis dari kalangan rakyat jelata, tidak kaya namun juga tidak miskin. Hanya seorang gadis desa sederhana yang rendah hati yang ditemuinya ketika berjalan-jalan dalam kunjungannya melihat rakyatnya yang hidup rukun dan damai dalam pemerintahan ayahnya yang sangat bijaksana. Namun, Azolla jatuh hati pada Mirabilis yang membuatnya meninggalkan segalanya hanya untuk cinta dan sebuah ikatan yang disebut pernikahan.

Ingatannya kembali ke masa-masa yang menentukan nyawa anaknya dan istri yang dicintainya. Setelah bolak-balik di depan pintu bersalin, suara tangisan kencang membuatnya tersenyum lega dan penuh kemenangan.

“Bayi laki-laki yang sehat, sangat tampan seperti ayahnya,” kata dokter berpipi bulat yang bertubuh gempal.

Bayi itu kecoklatan, sangat mulus tapi terlihat juga kerapuhannya. Barulah Azolla menyadari, bayi itu memang sangat membutuhkan seorang ayah yang menjaganya dan seorang ibu yang memberinya kasih sayang.

Dipeluknya si kecil, ditimang dan diayun dalam kedua lengannya yang kokoh dengan teramat lembut takut melukai si bayi.

“Kunamakan kau Grandis,” dipeluknya dan dikecup pipi Grandis yang lembut.

“Bagaimana istri saya Dok?”

“Baik, butuh istirahat sejenak dan bayi anda juga,” dokter tersebut membentuk tangannya siap untuk menerima Grandis dalam pelukannya. Azolla memberikannya dengan sangat hati-hati.

Istrinya dan anaknya tertidur pulas saat ini. Azolla menuju kantin rumah sakit yang hening. Saat ini menunjukkan pukul setengah tiga dini hari. Ia belum makan apapun dari tadi pagi sebab telah panik dengan kelahiran istrinya dan tidak mau melewatkan momen kelahiran buah hatinya.

“Malam Pak, atau pagi lebih tepatnya,” kata seorang dokter yang menangani kelahiran Grandis tadi.

“Pagi Dok. Bagaimana dengan istri saya Dok?” Azolla menjabat tangan dokter yang telah terulur padanya sejak dari tadi.

Dokter Peter, nama itu tertera di name tack-nya, menarik kursi untuk dirinya sendiri dan mendaratkan pantatnya pada bantalannya yang empuk dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kayu yang kokoh. Sepertinya doker tua itu kelelahan. Berapa lama pengabdiannya membantu para perempuan melahirkan, sepuluh tahun, dua puluh tahun, atau seumur hidupnya hingga saat ini? Jarang ada dokter seperti Dokter Peter, yang sungguh-sungguh menolong, bukan mencari keuntungan dari pasien-pasien yang bukan saja mengeluarkan uang banyak tanpa menerima pertolongan yang sepantasnya. Azolla telah melihat banyak dokter tamak yang mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dari pasien. Semoga Dokter Peter berbeda.

“Istri anda sangat kuat, ia tidak mengeluh kesakitan seperti kebanyakan perempuan lainnya. Sepertinya ia pun sama bahagianya dengan anda, mengharapkan kehadiran sebuah bayi yang tampan ke dunia ini.”

“Yah, bayi saya memang tampan dan sehat. Saya memilih rumah sakit yang tepat,” Azolla berseri.

“Ah, Anda terlalu berlebihan. Rumah sakit reyot seperti ini. Saya hanya heran Bapak memilih rumah sakit ini untuk kelahiran istri Bapak.”

“Terlalu merendah, terlalu merendah,” Azolla tersenyum ramah. Walau memang benar. Rumah sakit mungil, tidak lebih dari sepuluh kamar sederhana dengan peralatan sederhana pula. Bangku-bangku tua yang panjang berdecit ketika diduduki menimbulkan kesan ragu bagi yang ingin duduk. Azolla yakin, Dokter Peter sedikit berbeda dengan dokter lainnya. Untunglah ia ke rumah sakit sederhana ini.

“Saya tahu Bapak Azolla pasti lebih pantas di rumah sakit di kota yang lebih baik, mewah, dan lebih bersih,” Dokter Peter kembali merendah.

“Yah, Dokter benar rumah sakit di kota lebih mewah dan mungkin juga lebih bersih,” Azolla menahan kata-katanya sejenak melihat senyum simpul sang dokter, “Tapi tidak lebih baik dari rumah sakit ini. Di desa penduduknya ramah. Lagipula udara yang masih polos ini baik untuk kesehatan anak saya.”

Dokter Peter mengangguk menyetujui. Baru saja perbincangan santai itu berjalan, seorang suster muda berlari mendekat. “Maaf Dok, ada pasien gawat, dia pendarahan.”
Dokter Peter dengan gesit segera menuju pasien yang dikatakan suster itu tapi tidak terlihat kepanikan di wajahnya menimbulkan rasa ingin tahu pada Azolla.

Azolla menikmati makan paginya yang terlalu dini, pukul tiga subuh, sendiri. Melalui celah-celah dinding kayu, angin berhembus pelan namun dapat membuat Azolla menggigil sedikit. Dirapatkannya jaket di tubuhnya yang tidak terlalu tebal. Azolla tidak menyalakan pematik untuk menyulut rokok. Ia tidak pernah melakukannya seumur hidupnya. Ia cukup terpelajar untuk mengetahui bahaya merokok dan tidak mencobanya agar tidak perlu berusaha melepaskan diri dari rasa ketagihan.

Dua jam berlalu, Azolla tidak merasakan kantuknya. Sayup-sayup terdengar suara tangis bayi. Azolla terduduk tegak dibangkunya. Ia berdiri dan melangkah menuju ruang bayi. Ia menyusuri koridor perlahan, suasana sangat sepi dan Azolla tidak berniat membangunkan beberapa pasien yang membutuhkan istirahat ekstra.

Dari kaca ruang bayi, Azolla langsung mengenali wajah bayi mungilnya. Kehadiran Grandis di dunia ini sangat ditunggunya. Selama kehamilan Mirabilis, Azolla melepaskan semua pekerjaannya dan menghabiskan seluruh waktunya bersama istrinya. Ia telah mendambakan seorang bayi, apalagi bayi laki-laki untuk menyemarakkan keluarga kecilnya.

Dua orang suster datang, seorang membuka pintu dan yang lainnya menggendong seorang lagi bayi mungil yang dilapisi kain tebal yang hangat. Suster itu meletakkanya dengan hati-hati di sebelah Grandis kecil. Azolla menatap kepergian kedua suster tadi dan keheningan kembali merayap.

Bayi yang baru itu laki-laki juga tampaknya. Kurus, sangat kurus dibandingkan Grandis yang terlihat sangat sehat. Matanya tertutup rapat, nyenyak dalam balutan kain-kain yang membungkusnya. Oh, bayi kecil yang malang, betapa kurusnya kau. Azolla bersyukur ia selalu menjaga kandungan Mirabilis dengan memperhatikan gizi sang bayi maupun ibunya.

Azolla kembali menyusuri koridor dan duduk di kantin rumah sakit. Di ufuk timur, cahaya kemerahan bercampur jingga mulai terlihat, baku hantam dengan kegelapan menimbulkan warna-warna lainnya, biru tua dengan ungu tua, berusaha menghapus gelapnya malam. Ayam-ayam jago saling sahut menyahut menantang siapa yang ternyaring, membangunkan hari untuk dijalani umat manusia.

Azolla tetap teduduk di kursinya tadi. Matanya menerawang jauh menembus cakrawala seolah-olah ia dapat melihat belahan bumi bagian sana.

Dokter Peter duduk kembali di tempatnya semula disebelah Azolla seperti sebelumnya.
“Hai, Dok. Bagaimana misi penyelamatannya? Sukses?” Azolla menyeringai dan matanya seperti anak kecil yang tertarik mendengar cerita seorang ayah.

“Seorang perempuan melahirkan hari ini. Tidak terlalu baik, ia mengalami sedikit masalah. Pendarahan. Untunglah bayinya selamat, nanun nyawa sang ibu tidak...” Dokter Peter menghela nafas, “Aku sudah berusaha yang aku bisa.”

“Semua dokter mengatakan hal itu,” kata Azolla skeptis.

“Tapi sedikit yang sungguh-sungguh.”

“Apa kau termasuk yang sedikit itu?”

Dokter Peter mengangguk mantap. “Ya, dan saat aku tidak berhasil menyelamatkan nyawa sang bayi atau pun sang ibu, aku selalu merasa menyesal.”

“Hidup, mati dan jodoh ditangan Tuhan. Kau tidak bisa melawan kekuasaan-NYA,” Azolla mengingatkan.

“Yah, kau benar.”

“Jadi, ceritakan. Apa yang terjadi dengan sang bayi? Iya terlihat sangat kurus dan kurang gizi.”

“Hem, aku kenal perempuan itu.” Sampai di sini, mata Azolla membulat dan semakin melebar, telinganya dipertajam karena ini sangat menarik menurutnya.

“Seorang wanita tunasusila yang hidupnya tetap saja tidak berkecukupan. Perempuan yang cantik, sebelumnya ia hidup bahagia dengan suaminya, menjadi seorang istri yang baik, suami yang mempunyai penghasilan yang cukup untuk menghidupi mereka. Saat seorang bayi dikandungnya, suaminya terkena PHK. Ia mulai pergi ke tempat pelacuran dan mabuk-mabukan. Istrinya sering dipukul, padahal ia sangat menghormati istrinya sebelumnya dan perempuan itu juga selalu mematuhi suaminya. Akhirnya, suaminya pergi dengan wanita lain meninggalkannya dengan kandungan yang semakin membesar. Karena sakit hati, perempuan itu mulai melacurkan dirinya. Ia tidak memperhatikan keadaan janin-nya.”

Dokter Peter menghela nafas lagi. Usianya yang hampir mencapai kepala enam membuat staminanya mudah terkuras. Namun, karena pengabdiannya untuk desa tempat ia dibesarkan dengan segala kesederhanaan dan keramahannya, ia memilih untuk mempergunakan semua yang ada padanya untuk mengabdi pada desa ini.

“Lalu?” Azolla mulai tak sabar.

“Aku menemukannya mabuk dalam keadaan hamil di depan rumah sakit ini. Meraung-raung memukul tanah, menyesali nasib. Hidupnya hanya untuk hari ini, penghasilannya untuk makan hari ini. Lalu aku menampungnya di rumahku. Kehamilannya telah memasuki usia tujuh bulan saat itu. Aku melarangnya melacurkan diri lagi. Memberi berbagai macam asupan gizi untuk bayinya. Aku punya seorang istri, dia meninggal muda karena kecelakaan. Sejak saat itu, aku tidak tertarik untuk mencari penggantinya. Lalu aku melihat perempuan itu. Ia menyebut namanya Vesca. Perempuan yang cantik sebenarnya. Aku menganggapnya seperti anakku sendiri dan janinnya adalah cucuku. Anak yang tak pernah kudapatkan sebelumnya. Pikirannya sedikit terganggu, terlalu labil. Kadang terlihat ceria, kadang mengamuk. Pembantuku beberapa kali kena pukul ketika menenangkannya. Aku beberapa kali memberinya bius dosis rendah agar tidak menggangu janinya. Namun, satu bulan bukan waktu yang lama, bayi itu bisa lahir saja sudah bagus walau sedikit kurus. Ia lahir tepat waktu. Namun seperti yang kau tahu sebelumnya, Vesca tidak selamat. Aku sangat menyesalinya.”

“Mengapa kau menyesal Dok? Bukankah sudah kukatakan sebelumnya...”

“Yah, ya, ya, kau benar. Aku tahu hidup, mati dan jodoh ditangan Tuhan. Kau tidak bisa melawan kekuasaan-NYA. Itu kan yang mau kau katakan?” Azolla mengangguk.

“Aku hanya menyesal. Mungkin aku dapat merawat bayi Vesca beberapa tahun, melihatnya merangkak, berjalan, belajar berbicara, menyebutku kakek, tapi sampai berapa lama? Tiga tahun, delapan tahun, dua belas tahun? Tidak ada yang tau. Aku sudah tua, seperti yang kau bilang, maut dapat menjemput kapan saja. Bukannya aku takut mati, oh tenanglah,” Dokter Peter melambaikan tangan begitu alis Azolla terangkat sebelah.

“Aku hanya takut aku tak dapat menyaksikannya memasuki masa remajanya, masa pubernya, mengenali dan mulai bertanya siapa ayahnya, siapa ibunya, di mana mereka? Aku hanya tak bisa melihat bayi itu tumbuh dalam cemooh dan bisik-bisik tetangga dan teman sekolahnya nanti. Oh, betapa kejamnya kalau harus membawa anak itu dalam sebuah penderitaan maksudku dia tidak pernah minta dilahirkan.”

Azolla terdiam sejenak. Berpikir untuk menanggapi Dokter Peter yang mulai sedikit histeris dengan ceritanya.

“Kau benar Dok, ia tak perlu tumbuh dalam penderitaan yang akan membuatnya menjadi psikopat, maaf aku mencontoh yang ada di film,” Azolla berkata cepat-cepat melihat lirikan tajam dari Dokter Peter. “Tapi ingat, saat itu kau bilang Vesca dan suaminya hidup bahagia. Berarti ada cinta di sana, saat janin itu ditanam dalam rahim Vesca. Jadi poin-nya adalah, ‘cinta’,” Azolla memetikkan jari-jari telunjuknya saat mengatakan cinta. “Kuharap cinta sungguhan.”

“Oh, kau benar bung,” Dokter Peter melangkahkan kaki menuju ruang kerjanya. “Aku butuh istirahat sejenak,” katanya melangkah pergi.

Azolla kembali menatap langit di depannya. Matahari telah sejajar dengan matanya. Ia melirik arloji murahnya yang dibeli di pasar. Pukul tujuh kurang sepuluh menit. Azolla melangkahkan kakinya yang mengantarnya menuju ruang bayi. Kepalanya penuh sekarang.

Azolla melihat Grandis. Bayi kecilnya yang lucu seperti malaikat. Tapi seperti apa malaikat itu? Ia sendiri belum pernah melihatnya. Apakah seperti yang dilukis orang-orang itu? Apa orang-orang yang melukis pernah melihat malaikat itu? Kata orang malaikat itu pelayan Tuhan. Azolla percaya adanya Tuhan. Apakah malaikat itu seperti pelayan-pelayan di istana ayahnya? Pikiran Azolla menjadi kacau. Azolla menolehkan wajahnya pada bayi Vesca yang patut dikasihani.

“Apakah kau butuh cinta itu hai bayi? Apakah kau butuh kehangatan bukan hanya dari selimut itu, tapi dari pelukan seorang ayah dan ibu? Apakah kau mulai merasa tidak adil? Apakah kau merasa tertekan?” Azolla meneteskan airmatanya. Azolla dapat saja mendiskusikannya terlebih dahulu dengan istrinya, tapi istrinya selalu mematuhinya. Mirabilis tahu aturan dan posisinya sebagai istri. Dia adalah kepala di sini. Azolla-lah yang mengambil keputusan.

“Apakah hatimu cukup remuk wahai bayi? Kau butuh susu kukira, kau butuh makan dan minum.” Azolla melihat mata bayi itu mulai terbuka. Ia memandang Azolla tepat di manik matanya. Begitu memelas, begitu butuh kasih sayang, begitu rapuh, begitu memerlukan belas kasian.

Seorang suster membawa sebakul susu untuk lima bayi di dalam ruang bayi itu.
“Suster, boleh aku minta dua botol,” Azolla meminta pada suster dan segera beralih dua botol susu ke tangan Azolla. Azolla memberikan pada Grandis dan dengan lahap dihabiskannya susu yang menjadi bagiannya. Azolla mengalihkan wajahnya sejenak kepada bayi Vesca, tapi matanya tetap was-was pada Grandis.

“Halo bayi, kunamakan kau Arvensis. Halo Arven,” Azolla menyorongkan dot kebibir mungil Arven, namanya sekarang, dalam bak tidurnya yang terlihat kebesaran dibanding tubuhnya.

“Kupanggil kau anak dan kau bersaudara dengan Grandis. Halo Grandis, kau punya saudara sekarang,” Azolla berceloteh riang. Segala beban dalam pikirannya menguap cepat. Azolla merasa telah membuat keputusan yang tepat. Kini, ia mendapat dua putra sekaligus. Tidak ada perbedaan dalam mengasuh mereka, janji Azolla. Baik Grandis maupun Arven adalah sama di matanya, mereka adalah dua putra pewaris seluruh kekayaan Azolla.

“Mungkin, aku akan mempertimbangkan memungut anak lain lagi yang membutuhkan sebuah kata, CINTA,” batin Azolla mantap, karena ia yakin dapat memberikan kasih sayang pada anak-anaknya.



Para pembaca yang setia...
Sedikit info tambahan, kisah ini adalah sebuah kisah nyata. mungkin pengalaman di luar sana, mungkin juga pengalaman langsung sang penulis.

Hanya ini pesan penulis.
Yang dapat mengerti, mengertilah.
Yang dapat memahami, pahamilah.
Suatu rahasia akan diungkapkan bagi mereka yang mecari.